DSC00984

Jakarta – Para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI mengadakan aksi Menyapa Indonesia, serangkaian program pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah yang dianggap masuk dalam kawasan tertinggal.

Di tahap awal, Menyapa Indonesia akan melakukan sejumlah kegiatan di Provinsi Banten. Salah satunya adalah di desa Cikumbueun, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Di desa yang dihuni sekitar 3.600 jiwa ini, beberapa kegiatan yang diadakan para calon penerima BPI LPDP yang tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) 35 hingga 37 ini adalah perbaikan infrastruktur jalan sepanjang kurang lebih 3 km, serta pelatihan pengolahan produk kulit melinjo untuk para perempuan dan ibu rumah tangga.

“Untuk perbaikan jalan, akan kami mulai pada akhir bulan Juli 2015 nanti dan targetnya bisa tuntas dalam jangka waktu satu tahun,” kata Nur Khairusy Syakirin, Ketua Panitia Bidang Teknis Menyapa Indonesia Nur Khaiarusy Syakirin dalam rilis yang diterima Beritasatu.com, Senin (13/7).

Sedangkan terkait pelatihan pengolahan kulit melinjo sendiri, sudah dimulai sejak Sabtu (11/7/2015). Pelatihan ini diadakan mengingat potensi tanaman melinjo di Desa Cikumbueun yang cukup besar dan mengangkat perekonomian masyarakat setempat apabila dikelola secara tepat.

Karena itu, rangkaian pelatihan ini tidak hanya akan berhenti pada cara mengolah kulit melinjo menjadi produk dengan nilai lebih, tetapi juga termasuk pelatihan pemasaran produk.

“Melalui Menyapa Indonesia, kami ingin menunjukkan bahwa masih ada orang- orang atau para pemimpin muda Indonesia yang peduli terhadap orang – orang yang terpinggirkan,” ujar Hendra Etri Gunawan, Penanggung Jawab angkatan PK 35 dan 36 yang sekaligus salah satu konseptor Menyapa Indonesia.

Desa Cikumbueun dipilih menjadi salah satu wilayah sasaran program Menyapa Indonesia karena perekonomian masyarakatnya yang terbilang lemah. Di sini, mayoritas warga bekerja sebagai petani dengan pendapatan yang cukup jauh di bawah Upah Minimum Kota /Kabupaten (UMK) Pandeglang yang sebesar Rp 1.737.000.

Kondisi demikian membuat mereka sulit mengakses kesejahteraan. Bahkan sebagian besar warga hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Sekolah Dasar. Setiap tahun, hasil panen tanaman tersebut bisa mencapai 50 ton.

Belum meratanya perekonomian masyarakat setempat, juga dipicu kondisi infrastruktur yang belum memadai dan mendukung pertumbuhan perekonomian. Sebagian besar jalan di Desa Cikumbueun rusak parah. Kondisinya yang berbatu-batu, sulit diakses pada saat hujan karena rawan menyebabkan kecelakaan.

Kondisi yang demikian juga menyebabkan masyarakat luar sulit menembus desa ini. Salah satu dampaknya, pertumbuhan investasi pun rendah. Padahal potensi hasil bumi di desa ini cukup luar biasa. Salah satu komoditas yang banyak ditemukan di desa ini adalah Melinjo.

Firda Puri Agustine/FIR

(Artikel ini dimuat di situs beritasatu.com pada Senin, 13 Juli 2015 | 11:23).

link : http://www.beritasatu.com/ekonomi/290715-aksi-menyapa-indonesia-ubah-melinjo-bernilai-ekonomi-tinggi.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>