Sapa Sebatang

Tentang “Sapa Sebatang”

Menyapa Indonesia merupakan program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan desa terpencil yang dilakukan oleh para calon penerima (awardee) Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Saat ini program MI yang dimotori oleh awardee angkatan PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP 41, PK-42, PK-43, dan PK-44 dilaksanakan di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai salah satu dukuh yang tercatat memiliki 200 KK (Kepala Keluarga), Dukuh Sebatang dipilih sebagai lokasi penerapan program MI (Menyapa Indonesia) karena dianggap paling membutuhkan bantuan pengembangan masyarakat dibandingkan dukuh lain yang ada di sekitarnya.

Hasil survey lapangan tim MI gabungan memperlihatkan bahwa 166 dari 200 KK masih termasuk ke dalam kategori KK prasejahtera. Dalam Upaya membantu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Dukuh Sebatang, tim MI Gabungan PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 mencanangkan program pemberdayaan serta pengembangan Dukuh Sebatang yang berorientasi pada 4 bidang utama, yakni bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan budaya, serta infrastruktur.

Setiap angkatan PK bertanggungjawab pada satu bidang tertentu. PK-41 mengusung program kerja untuk bidang kesehatan, PK-42 melakukan pemberdayaan dalam bidang ekonomi, PK-43 berperan dalam bidang pendidikan dan budaya, serta PK-44 melakukan pengembangan dalam bidang infrastruktur.

Bidang Kesehatan

Dari segi kesehatan, Dukuh Sebatang memiliki beberapa permasalahan, di antaranya adalah terdapat beberapa masyarakat yang terjangkit penyakit degeneratif dan ISPA, minim dan kurang memadainya fasilitas mandi cuci kakus (MCK), sulitnya akses air bersih, kurangnya sarana pelayanan kesehatan, dan terdapat banyak rumah warga yang belum masuk kriteria rumah sehat.

Menurut Syamsul Qamar dan Syafira Amadea, Project Leader MI PK-41 Catureka Mandala, Dukuh Sebatang berada di daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang belum memadai sehingga warga sulit dalam mengakses fasilitas kesehatan.

Warga yang sakit dan ingin berobat, harus menunggu adanya puskesmas keliling yang hanya datang sebulan sekali ke Dukuh Sebatang. Di samping itu, mayoritas masyarakat setempat memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah sehingga perhatian dan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan penyakit masih kurang.

Untuk mengakomodasi kondisi-kondisi tersebut, Catureka Mandala akan mengembangkan tiga program kesehatan, yaitu pembentukan kader penyuluh kesehatan, arisan jamban, dan kajian air bersih.

Bidang Ekonomi

Mayoritas penduduk di Dukuh Sebatang berprofesi sebagai petani gula kelapa. Pada beberapa lokasi terdapat peternakan kambing dan kelinci, walau belum berkembang dengan baik.

Meski telah memiliki mata pencaharian utama, masyarakat Dukuh Sebatang masih tidak luput dari kondisi kesenjangan ekonomi. Kurangnya minat masyarakat untuk mengolah gula kelapa sebagai salah satu komoditas utama, kurangnya kemampuan masyarakat untuk beternak, kurangnya kemampuan masyarakat dalam memasarkan hasil tani, banyaknya tengkulak sehingga hasil jual rendah, merupakan beberapa faktor yang melatarbelakangi kesenjangan ekonomi tersebut.

Bondan Widyatmoko selaku Project Leader MI PK-42 Ancala Diwangkara menjelaskan bahwa terdapat dua program utama dalam pengembangan ekonomi Dukuh Sebatang yakni Branding Dukuh Sebatang sebagai Sentra Industri Olahan Nira dan Pelatihan Good Farming Practice (GFP) untuk Budidaya Kelinci.

Program industri olahan nira akan dimulai dengan mengadakan pelatihan diversifikasi produk olahan nira menjadi olahan lain seperti jahe gula aren dan ampyang aneka rasa sebagai upaya peningkatan nilai jual produk hingga ke tahap sertifikasi produk.

Sedangkan program budidaya kelinci akan dimulai dengan mengadakan pelatihan cara beternak yang baik. Kedua program ini mampu disinergikan melalui pemanfaatan limbah kotoran kelinci sebagai pupuk organik untuk perkebunan kelapa.

Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Project Leader MI PK-43 Jivakalpa, Isma Dwi Kurniawan mengatakan bahwa di Dukuh Sebatang tidak ada sekolah dasar. Jarak antara rumah dengan sekolah dasar menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan di Dukuh Sebatang. Sementara itu, dalam bidang kebudayaan dan kesenian, Dukuh Sebatang memiliki potensi karya-karya seni dalam bentuk Jathilan dan Karawitan yang butuh untuk terus dipelihara, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dalam upaya memfasilitasi pengembangan pendidikan dan kebudayaan, PK-43 Jikavalpa berorientasi pada program peningkatan kesadaran pentingnya pendidikan, pengadaan sarana prasarana, dan peningkatan kualitas SDM pendidik.

Melalui program kakak asuh, diharapkan motivasi belajar para pelajar di Dukuh Sebatang dapat meningkat. Selain itu, PK-43 Jivakalpa juga akan melakukan perbaikan infrastruktur PAUD, mengadakan training of trainers (ToT) bagi tenaga pendidik, dan menambah buku bacaan di Rumah Pintar yang sudah tersedia di Dukuh Sebatang. Selanjutnya, untuk mendukung perkembangan kebudayaan, PK-43 Jivakalpa akan melaksanakan beberapa kegiatan seperti manajemen organisasi seni dan kaderisasi dengan tujuan menjadikan Dukuh Sebatang sebagai kampung kesenian.

Bidang Infrastruktur

Perbedaan elevasi pada profil tanah yang besar serta jarak Dukuh Sebatang yang jauh dari pusat kota Kulonprogo menyebabkan terhambatnya perkembangan infrastruktur transportasi, air, dan listrik. Jalan desa yang dibangun dari bahan dasar semen (konblok) pada musim hujan menjadi sangat licin karena lumut dan pasir.

Project Leader PK-44, Cholila Tamzyi mengatakan bahwa kondisi jalan kabupaten yang cukup parah dan naik turun juga menyebabkan sulitnya akses kendaraan roda 4 pembawa material bangunan ataupun ambulan emergency jika ada warga yang sakit. Di samping itu, akses air Dukuh Sebatang wilayah atas dan dengan sangat terbatas.

Dalam upaya pembenahan kondisi tersebut, PK-44 Sthana Citraloka akan melakukan berbagai program, antara lain program infrastruktur air, program infrastruktur jalan, dan program infrastruktur listrik.

Adapun upaya untuk mewujudkan penyediaan air bagi warga masyarakat Dukuh Sebatang dilakukan melalui berbagai program meliputi: advokasi peroyek pengembangan jalur PDAM, konservasi mata air, dan pengujian kualitas air. Sementara pada program infrastruktur jalan akan dilakukan bantuan advokasi proposal pembangunan jalan. Selanjutnya pada program infrastruktur listrik akan diupaakan penggunaan solar cell.

Keseluruhan program MI oleh PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, akan dikemas dalam satu proyek yang dinamakan ”Sapa Sebatang”, dan akan dimulai pada bulan Agustus 2015.

Program Sapa Sebatang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat Dukuh Sebatang yang berperilaku sehat dan berdikari menciptakan lingkungan sehat, mandiri dan kreatif dalam bidang ekonomi, serta maju dalam bidang pendidikan, seni dan budaya. Selain itu, melalui pembangunan infrastruktur yang memadai, diharapkan dapat mendorong masyarakat Dukuh Sebatang untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di wilayah mereka.

dukuh sebatang copy

“Menyapa Indonesia” Menyapa Dukuh Sebatang

Aksi Menyapa Indonesia (MI) yang digelar para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, akan menjangkau berbagai daerah tertinggal di Indonesia. Salah satu daerah yang kini menjadi sasaran aksi Menyapa Indonesia adala Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogra, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di tempat ini, pelaksanaan aksi Menyapa Indonesia melibatkan empat kelompok, yakni kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke-41, hingga PK-44. Di Dukuh Sebatang, Masing-masing kelompok ini memiliki bidang yang berbeda-beda dalam menjalankan aksi mereka.

PK-41 (Catureka Mandala)

Catureka MandalaCatureka Mandala merupakan kumpulan putra putri terbaik bangsa yang mendapat kepercayaan menjadi calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Kelompok ini tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan Angkatan 41 (PK-41) yang diketuai oleh Oktiani Putri.

Catureka Mandala yang bermakna Kesatuan 41, tidak hanya menjadi representasi identitas kolektif. Lebih lebih dari itu. Nama ini merupakan manifestasi cita dari seluruh anggota PK-41 untuk bersatu, bersama dalam semangat cinta dan harmoni, menjadi insan unggul yang mampu membangun negeri menuju Indonesia Emas 2045.

PK-41 beranggotakan 130 calon awardee yang terdiri dari 107 calon magister, 17 orang calon doktor, serta enam orang calon doktor spesialis. Mereka semua akan melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sebanyak 130 orang ini terbagi dalam enam kelompok yang dinamai pulau-pulau terluar Indonesia, yaitu: Pulau Sibarubaru, Pulau Maratua, Pulau Nusa Barung, Pulau Wetar, Pulau Kakarutan, dan Pulau Fanildo. Penamaan kelompok tersebut sekaligus menjadi pesan dan ajakan dari dari PK-41 kepada seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga dan memelihara keutuhan wilayan NKRI.

Sebagai bentuk pengabdian kepada negeri, Catureka Mandala (PK-41) beserta PK-42, PK-43, dan PK-44 sedang melakukan aksi pemberdayaan masyarakat (community development) bertajuk ‘Menyapa Indonesia’ di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bidang kesehatan menjadi fokus pemberdayaan Catureka Mandala di desa tersebut. Tiga program prioritas yang akan dilakukan adalah: Kader Penyuluhan Kesehatan, Arisan Jamban, dan Akses Layanan Air Bersih.

Semua program tersebut bermuara pada satu tujuan yaitu peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Dukuh Sebatang yang berkelanjutan.

PK-42 (Ancala Diwangkara)

PK-42Ancala Diwangkara diketuai oleh Mouliza Kristhopher Donna S. Secara harfiah Ancala berarti gunung danDiwangkara berarti menerangi/penerang. Gunung dapat pula disebut sebagai pasak bumi yang menjaga keseimbangan, tempat tumbuh dan berkembangnya beragam spesies dan masyarakat. Sedangkan setiap gunung, pasti memiliki puncak sebagaimana seorang pemimpin yang memiliki visi untuk kehidupan yang lebih baik.

PK-42 adalah sekumpulan pemimpin yang dapat turut serta menyeimbangkan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi bangsa, dan menjadi penggagas asa bangsa. Dengan karakteristik tersebut, anggota PK-42 diharapkan dapat menjadi penerang bagi masa depan bangsa Indonesia.

Ancala Diwangkara beranggotakan 123 orang yang terbagi dalam 6 kelompok. Setiap kelompok memiliki nama puncak gunung yang ada di Indonesia; Mahameru, Cartenzs, Indrapura, Rantemario, Rinjani, dan Bukit Raya.

Ancala Diwangkara turut serta memotori program ‘Menyapa Indonesia’ di Dukuh Sebatang, dan akan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam hal pengelolaan potensi ekonomi, yaitu melalui program branding nira dan budidaya kelinci. Harapan ke depan, program Menyapa Indonesia ini mampu membentuk generasi penerus yang mandiri dalam bidang wirausaha.

PK-43 (Jivakalpa)

PK 43 JivakalpaJivakalpa yang berasal dari bahasa sansekerta, yakni Jiva (jiwa) yang berarti benih kehidupan dan Kalpataru yang merupakan pohon pengharapan dan mencerminkan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan seimbang, yang diidamkan karena melambangkan hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup. Karena itu, nama Jivakalpa sendiri merepresentasikan visi PK-43 untuk mewujudkan harapan masyarakat akan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan diidamkan.

“Jivakalpa” yang diketuai Ihsan Ahmad Zulkarnain, terdiri dari 122 calon-calon magister dan doktoral yang berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Kelompok ini terbagi lagi menjadi enam kelompok yang masing-masing dinamai dengan nama-nama bertema diversifikasi pangan, yaitu : Papeda, Gadong, Songkolo, Bagadang, Dadiah, Thiwul, dan Eloi.

Tema diversifikasi pangan ini digunakan dengan maksud memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal 16 Oktober yang juga bertepatan dengan waktu pelaksanaannya PK -43 LPDP di wisma Hijau Depok.

Penyelenggaraan HPS di Indonesia menjadi momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan para stakeholder terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Program spesifik yang dibidangi oleh PK-43 dalam pelaksanaan Menyapa Indonesia di Dukuh Sebatang ialah pendidikan dan kebudayaan. Dalam bidang pendidikan, PK-43 berfokus pada pelatihan tenaga pendidik, kakak adik asuh, perbaikan kualitas PAUD, dan perbaikan kualitas Rumah Pintar. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, PK-43 berfokus pada Sebatang Heritage Festival, video framing, showcase, interaksi, kaderisasi, dan manajemen organisasi seni.

PK-44 (Sthana Citraloka)

logo pk44Sthana Citraloka merupakan nama Persiapan Keberangkatan angkatan 44 (PK-44) yang diketuai oleh Devian Stevano.

Sthana Citraloka berarti tempat yang memiliki catatan sejarah dunia. Nama ini mengingatkan kita kepada tempat-tempat wisata sejarah yang memiliki nilai budaya, kepribadian dan karakter bangsa Indonesia serta menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan pendahulu.

Sthana Citraloka memuat harapan para peserta PK-44 agar lebih mengetahui dan melestarikan tempat-tempat bersejarah di Indonesia, sehingga dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Jumlah peserta PK-44 adalah 120 orang yang terdiri dari 97 orang calon magister, 19 orang calon doktor, dan empat orang calon doktor spesialis, yang akan menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada PK-44 terdapat 6 kelompok dengan penamaan bertemakan tempat bersejarah, yaitu: Benteng Vredeburg, Taman Sari, Lawang Sewu, Fort Rotterdam, Jam Gadang, dan Gedung Sate.

Para peserta PK-44 akan berkontribusi pula pada program ‘Menyapa Indonesia’ yang merupakan program pengembangan masyarakat yang dikelola oleh para calon penerima anugerah BPI-LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Bidang Infrastruktur menjadi fokus kontribusi yang dilakukan PK-44 khususnya dalam pengembangan infrastruktur air, jalan, dan listrik.

isigood

Penerima Beasiswa BPI-LPDP Bangun Saluran Air Bersih dan MCK di Desa Ramea, Banten

[ISIGOOD.COM] Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)-LPDP yang tergabung dalam kelompok Banu Bangsa menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten. Kegiatan tersebut antara lain membangun saluran air bersih dan mandi, cuci dan kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

LPDP (Lembaga Pengelola Dana Kegiatan Pendidikan) adalah lembaga di bawah Kementerian Keuangan dengan pengawasan dari 3 Kementerian, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Agama Republik Indonesia. LPDP bertugas mengelola dana abadi pendidikan yang dana hasil kelolanya digunakan untuk mempersiapkan calon pemimpin muda masa depan melalui pemberian dana pendidikan untuk beasiswa dan riset kepada putra-putri terbaik Bangsa Indonesia

Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI-LPDP juga selaku Ketua Kelompok Banu Bangsa menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami,” ujar Galuh.

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.

Di samping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, ke depannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tambah Galuh.

Banu Bangsa sendiri adalah kelompok anak-anak muda Indonesia penerima beasiswa LPDP. Melalui kelompok ini, mereka berusaha mempersembahkan kontribusi terbaik untuk Indonesia. Dengan semangat optimisme, Banu Bangsa berusaha menumbuhkan harapan untuk masyarakat Indonesia. Banu Bangsa datang dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia, terpencar dari berbagai pulau di Indonesia, namun mereka memiliki satu tujuan yang sama: memajukan Indonesia. Melalui program pengembangan masyarakat (community development) yang bernama Menyapa Indonesia, mereka berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di beberapa lokasi daerah tertinggal di Indonesia yang masih belum terjamah oleh pendidikan dan teknologi.

(Artikel ini telah dimuat di situs online isigood.com, Kamis, 30 Juli 2015)

tautan : www.isigood.com/hal-baik-hari-ini/penerima-beasiswa-bpi-lpdp-bangun-saluran-air-bersih-dan-mck-di-desa-ramea-banten/

Petani Ramea

Penerima Beasiswa LPDP Membangun Desa lewat “Menyapa Indonesia”

Jakarta – Sebanyak 128 penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI mengadakan akan mengadakan aksi Menyapa Indonesia dengan serangkaian program pemberdayaan masyarakat di Desa Ramea, Provinsi Banten yang merupakan kawasan desa tertinggal. Salah satu tujuan pengiriman pemuda-pemuda yang terpilih dalam beasiswa LPDP untuk bersekolah S2 atau S3 di dalam maupun luar negeri adalah melakukan pengabdian masyarakat untuk berkontribusi pada pembangunan negara.

Program pemberdayaan ini adalah rangkaian aktivitas pembangunan saluran air bersih dan MCK yang menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan. Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI- LPDP juga selaku ketua kelompok pelaksana pembangunan desa bernama Banu Bangsa mengungkapkan, “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami,” pungkas Galuh.

Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga. [ITS]

 

(artikel ini ditayangkan di portal online indonesiatravelmagz.com, Jumat, 24 Juli 2015)

tautan : http://indonesiatravelmagz.com/travel/index.php/specialinterest/article/52/#.VboFaLVRquJ

Banu Bangsa Logo

Banu Bangsa Bangun Saluran Air Bersih

Jakarta. Juli 2015 – Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) – LPDP yang tergabung dalam kelompok bernama Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten yaitu membangun saluran air bersih dan mandi, cuci & kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI- LPDP juga selaku ketua kelompok Banu Bangsa menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami”, ujar Galuh.

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.
Disamping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, kedepannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tambah Galuh

tautan : http://www.hijauku.com/2015/07/22/banu-bangsa-bangun-saluran-air-bersih/

Continue reading

sanitasi-buruk (sumber : Antara)

Minim MCK, Banu Bangsa Kembangkan Program Sanitasi Di Banten

Bisnis.com, JAKARTA – Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)–LPDP yang tergabung dalam kelompok Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten.

Ketua Banu Bangsa Galuh Ainur Rohmah mengatakan tiga kegiatan tersebut ialah membangun saluran air bersih dan mandi, cuci & kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2015).

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki satu MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten.

Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang.

“Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga,” ujar Galuh

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui  sponsorship dan crowdfunding.

Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami.

Galuh menyampaikan pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini.

Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.

Disamping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan agar menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tutur Galuh.

(artikel ini telah dimuat di portal online bisnis.com , Kamis, 23 Juli 2015)

Tautan : http://manajemen.bisnis.com/read/20150723/240/455672/minim-mck-banu-bangsa-kembangkan-program-sanitasi-di-banten

Ilustrasi Pembangunan Desa (kismantoro.or.id)

Penerima Beasiswa Salurkan Dana Untuk Pembangunan MCK

Jakarta, 23/7 – Sebanyak 128 penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menyalurkan Rp152 juta untuk pembangunan saluran air bersih serta mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Desa Ramea, Banten.

Penerima BPI LPDP Galuh Ainur Rohmah yang juga Ketua Kelompok Banu Bangsa di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga (KK), hanya memiliki satu MCK umum, yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten.

Ia menyebutkan sebanyak 7 persen rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sebagian besar lainnya, masih melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang.

Oleh karena itu, kata dia, pembangunan sarana itu sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga setempat.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini,” katanya.

Adapun teknis pelaksanaannya, kata Galuh, akan melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihaknya.

Ia mengatakan bahwa pembangunan saluran air bersih dan MCK yang diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih Rp152 juta tersebut menggunakan dana yang diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding.

Selain melakukan pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, Galuh mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat.

Guna mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, kata dia, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi dua pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, ke depannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” katanya.

(Artikel ini telah dipublikasikan di selasar.com tanggal 23 Juli 2015)

tautan : http://bit.ly/1KAAfQn

lpdp-_150725185103-313

Penerima Beasiswa BPI-LPDP Bangun Saluran Air Bersih di Desa Ramea

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)-LPDP yang tergabung dalam kelompok bernama Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten yaitu membangun saluran air bersih dan mandi, cuci dan kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat, serta pemberian beasiswa kebidanan.

Salah satu penerima beasiswa BPI-LPDP juga selaku ketua kelompok Banu Bangsa, Galuh Ainur Rohmah, menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten.

Selain itu hanya 7 persen rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami”, ujar Galuh dalam siaran pers yang diterima ROL, Sabtu (25/7).

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih Rp 152 juta, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.

Di samping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi dua pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, kedepannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” kata Galuh menambahkan.

 

(artikel ini telah dimuat di Republika Online, Sabtu, 25 Juli 2015)

tautan : http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/07/25/ns1kxw291-penerima-beasiswa-bpilpdp-bangun-saluran-air-bersih-di-desa-ramea

pengolahan kulit melinjo

Penerima Beasiswa LPDP Gelar Aksi Menyapa Indonesia

Para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI akan mengadakan serangkaian program pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah yang dianggap masuk dalam kawasan tertinggal. Program ini bertajuk Menyapa Indonesia.

Di tahap awal, Menyapa Indonesia akan melakukan sejumlah kegiatan di Provinsi Banten. Salah satunya adalah di desa Cikumbueun, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Di desa yang dihuni sekitar 3.600 jiwa ini, beberapa kegiatan yang diadakan para calon penerima BPI LPDP yang tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) 35 hingga 37 ini adalah perbaikan infrastruktur jalan sepanjang kurang lebih 3 km, serta pelatihan pengolahan produk kulit melinjo untuk para perempuan dan ibu rumah tangga.

“Untuk perbaikan jalan, akan kami mulai pada akhir bulan Juli 2015 nanti dan targetnya bisa tuntas dalam jangka waktu satu tahun,” kata Nur Khairusy Syakirin, Ketua Panitia Bidang Teknis Menyapa Indonesia.

“Nantinya program-program seperti ini juga akan menyentuh daerah-daerah lain di Indonesia yang masih tertinggal,” lanjutnya.

Sedangkan terkait pelatihan pengolahan kulit melinjo sendiri, sudah dimulai sejak Sabtu (11/7/2015). Pelatihan ini diadakan mengingat potensi tanaman melinjo di Desa Cikumbueun yang cukup besar dan berpotensi mengangkat perekonomian masyarakat setempat apabila dikelola secara tepat. Karena itu, rangkaian pelatihan ini tidak hanya akan berhenti pada cara mengolah kulit melinjo menjadi produk dengan nilai lebih, tetapi juga termasuk pelatihan pemasaran produk.

”Dengan semua upaya ini kami berharap perekonomian masyarakat yang tersentuh program ini bisa mengalami peningkatan. Melalui Menyapa Indonesia, kami ingin menunjukkan bahwa masih ada orang- orang atau para pemimpin muda Indonesia yang peduli terhadap orang – orang yang terpinggirkan,” ujar Hendra Etri Gunawan, Penanggung Jawab angkatan PK 35 dan 36 yang sekaligus salah satu konseptor Menyapa Indonesia.

Desa Cikumbueun dipilih menjadi salah satu wilayah sasaran program Menyapa Indonesia karena perekonomian masyarakatnya yang terbilang lemah. Di sini, mayoritas warga bekerja sebagai petani dengan pendapatan yang cukup jauh di bawah Upah Minimum Kota /Kabupaten (UMK) Pandeglang yang sebesar Rp 1.737.000. Kondisi demikian membuat mereka sulit mengakses kesejahteraan. Bahkan sebagian besar warga hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Sekolah Dasar.

Belum meratanya perekonomian masyarakat setempat, juga dipicu kondisi infrastruktur yang belum memadai dan mendukung pertumbuhan perekonomian. Sebagian besar jalan di Desa Cikumbueun rusak parah. Kondisinya yang berbatu-batu, sulit diakses pada saat hujan karena rawan menyebabkan kecelakaan.

Kondisi yang demikian juga menyebabkan masyarakat luar sulit menembus desa ini. Salah satu dampaknya, pertumbuhan investasi pun rendah. Padahal potensi hasil bumi di desa ini cukup luar biasa. Salah satu komoditas yang banyak ditemukan di desa ini adalah Melinjo. Setiap tahun, hasil panen tanaman tersebut bisa mencapai 50 ton. **

DSC00984

Aksi “Menyapa Indonesia” Ubah Melinjo Bernilai Ekonomi Tinggi

Jakarta – Para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI mengadakan aksi Menyapa Indonesia, serangkaian program pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah yang dianggap masuk dalam kawasan tertinggal.

Di tahap awal, Menyapa Indonesia akan melakukan sejumlah kegiatan di Provinsi Banten. Salah satunya adalah di desa Cikumbueun, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Di desa yang dihuni sekitar 3.600 jiwa ini, beberapa kegiatan yang diadakan para calon penerima BPI LPDP yang tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) 35 hingga 37 ini adalah perbaikan infrastruktur jalan sepanjang kurang lebih 3 km, serta pelatihan pengolahan produk kulit melinjo untuk para perempuan dan ibu rumah tangga.

“Untuk perbaikan jalan, akan kami mulai pada akhir bulan Juli 2015 nanti dan targetnya bisa tuntas dalam jangka waktu satu tahun,” kata Nur Khairusy Syakirin, Ketua Panitia Bidang Teknis Menyapa Indonesia Nur Khaiarusy Syakirin dalam rilis yang diterima Beritasatu.com, Senin (13/7).

Sedangkan terkait pelatihan pengolahan kulit melinjo sendiri, sudah dimulai sejak Sabtu (11/7/2015). Pelatihan ini diadakan mengingat potensi tanaman melinjo di Desa Cikumbueun yang cukup besar dan mengangkat perekonomian masyarakat setempat apabila dikelola secara tepat.

Karena itu, rangkaian pelatihan ini tidak hanya akan berhenti pada cara mengolah kulit melinjo menjadi produk dengan nilai lebih, tetapi juga termasuk pelatihan pemasaran produk.

“Melalui Menyapa Indonesia, kami ingin menunjukkan bahwa masih ada orang- orang atau para pemimpin muda Indonesia yang peduli terhadap orang – orang yang terpinggirkan,” ujar Hendra Etri Gunawan, Penanggung Jawab angkatan PK 35 dan 36 yang sekaligus salah satu konseptor Menyapa Indonesia.

Desa Cikumbueun dipilih menjadi salah satu wilayah sasaran program Menyapa Indonesia karena perekonomian masyarakatnya yang terbilang lemah. Di sini, mayoritas warga bekerja sebagai petani dengan pendapatan yang cukup jauh di bawah Upah Minimum Kota /Kabupaten (UMK) Pandeglang yang sebesar Rp 1.737.000.

Kondisi demikian membuat mereka sulit mengakses kesejahteraan. Bahkan sebagian besar warga hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Sekolah Dasar. Setiap tahun, hasil panen tanaman tersebut bisa mencapai 50 ton.

Belum meratanya perekonomian masyarakat setempat, juga dipicu kondisi infrastruktur yang belum memadai dan mendukung pertumbuhan perekonomian. Sebagian besar jalan di Desa Cikumbueun rusak parah. Kondisinya yang berbatu-batu, sulit diakses pada saat hujan karena rawan menyebabkan kecelakaan.

Kondisi yang demikian juga menyebabkan masyarakat luar sulit menembus desa ini. Salah satu dampaknya, pertumbuhan investasi pun rendah. Padahal potensi hasil bumi di desa ini cukup luar biasa. Salah satu komoditas yang banyak ditemukan di desa ini adalah Melinjo.

Firda Puri Agustine/FIR

(Artikel ini dimuat di situs beritasatu.com pada Senin, 13 Juli 2015 | 11:23).

link : http://www.beritasatu.com/ekonomi/290715-aksi-menyapa-indonesia-ubah-melinjo-bernilai-ekonomi-tinggi.html