Banu Bangsa Logo

Mengenal Banu Bangsa

Banu Bangsa adalah sekelompok anak muda Indonesia penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)  dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, yang masuk dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke-38.

Melalui kelompok ini, kami berusaha mempersembahkan kontribusi terbaik untuk Indonesia. Dengan semangat optimisme, kami berusaha menumbuhkan harapan untuk masyarakat Indonesia. Kami datang dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia, terpencar dari berbagai pulau di Indonesia, namun kami memiliki satu tujuan yang sama: memajukan Indonesia.

Banu Bangsa beranggotakan tak kurang dari 100 anggota. Salah satu agenda penting yang saat ini sedang kami kerjakan adalah melakukan community development di sebuah desa tertinggal di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Mari, bersama kami, bergandengan, memberikan semangat perubahan untuk masa depan yang lebih baik.Continue reading

Petani Ramea

Sekilas Desa Ramea

Desa Ramea adalah sebuah desa terpencil di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang menjadi  salah satu lokasi sasaran program Menyapa Indonesia. Motor penggerak program ini di desa Ramea adalah para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kelompok PK-38. Kelompok ini menamai dirinya, Banu Bangsa. 

Kondisi perekenomian warga desa Ramea ada di bawah rata-rata. Untuk kebutuhan pangan sehari­-hari, mereka  memanfaatkan hasil tanam sendiri seperti jagung dan tomat. Bustomi, sekretaris desa Ramea, mengatakan bahwa di desanya, warga terbilang kurang produktif. Salah satu indikasinya, jam kerja warga yang rata­-rata hanya selama 2 hari dalam seminggu dengan sisa 5 hari lainnya menganggur.

Petani Ramea

Untuk meningkatkan  taraf perekonomian desa, beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat sudah pernah dirintis oleh pihak swasta maupun pemerintah.  Salah satunya adalah Dompet Dhuafa yang melalui Mitra Jejaring Pertanian Sehat Indonesia mengadakan program pemberdayaan pertanian. Program ini bernama “Petani Desa Berdikari”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan pemberian modal dan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para petani dalam mengolah lahan pertaniannya efektif dan efisien dengan cara yang lebih modern. Tetapi,saat ini ketiadaan  embung (cekungan penampung air) menyebabkan penurunan hasil panen padi ketika musim kemarau tiba.

Jembatan Rusak
Jembatan Kayu

Pemerintah sendiri pernah mengadakan program  Kampung binaan Program Pemberdayaan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) dengan memberi pelatihan mengolah buah melinjo yang sasarannya adalah kalangan ibu rumah tangga.

Sayangnya, dari 40 warga yang dibina, kini tersisa 4 orang yang masih meneruskan kegiatan pengolahan melinjo ini. Mereka yang bertahan ini pun hanya berproduksi apabila ada pesanan (made by order). Maka tidak bisa dikatakan bahwa pengolahan buah melinjo menjadi emping ini merupakan kegiatan ekonomi utama.

Salah satu kendala yang dialami penduduk desa adalah tidak tersedianya sistem pemasaran untuk produk olahan buah melinjo. Ini menyebabkan warga kesulitan  menjual produk tersebut secara luas.

Masalah infrastruktur juga menjadi problematika utama desa Ramea. Kondisi jalan Desa Ramea sangat rusak sehingga tidak dapat dilalui oleh mobil. Sedangkan jarak antara Mandalawangi – Desa Ramea sekitar 10 km. Selain itu, masih ada kendala 141 rumah dari 441 yang belum teraliri listrik, tidak ada bidan desa, jembatan yang hanya ditopang balok kayu dan fasilitas air bersih dan MCK yang minim.

Banu Bangsa Logo

Banu Bangsa Kunjungi desa Ramea

Mengawali sebuah proyek besar pengembangan masyarakat (community development), anak-anak muda penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam kelompok PK-38 “Banu Bangsa” berkunjung ke Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Kamis, 25 Juni 2015 silam.

Kunjungan ini sekaligus merupakan survey awal guna memetakan secara langsung potensi, permasalahan, dan alternatif solusi yang Banu Bangsa bisa berikan melalui program Menyapa Indonesia.

Tim survey Banu Bangsa yang berangkat ke Desa Ramea dipimpin Wildan Ahmad Adani sebagai koordinator survey, bersama 10 orang lainnya dari kelompok pra-PK 38 Banu Bangsa. Bersama dengan mereka, turut pula tiga anggota kelompok pra-PK 39.

Kunjungan ini sangat penting, terutama karena Banu Bangsa yang terdiri dari generasi muda dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian harus bisa mensinergikan pengetahuan dan kemampuan mereka satu sama lain dengan warga Desa Ramea yang tentu memiliki adat istiadat, kekhasan, dan kearifan lokalnya sendiri. Melalui survey ini, Banu Bangsa ingin mengetahui kondisi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan sanitasi masyarakat Desa Ramea.

Hasil survey menunjukkan, sebanyak 64 persen warga Desa Ramea menyandarkan hidupnya pada bidang pertanian. Masalah muncul ketika musim kemarau tiba. Ketiadaan embung penampungan air menyebabkan hasil panen menurun. Belum banyak juga potensi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dikembangkan dari pengolahan hasil pertanian ini. Kondisi ini menyebabkan banyak warga  menganggur dan tidak produktif.

Kualitas pendidikan di Desa Ramea juga masih di bawah rata-rata. Selain ketersediaan fasilitas pendidikan dasar SMP dan SMA yang masih sangat minim, kendala jarak dan infrastruktur jalan yang buruk semakin memperlambat laju pendidikan di Desa Ramea.

Dalam hal kesehatan, Desa Ramea belum tersentuh akses pelayanan kesehatan yang memadai. Ketersediaan Poskesdes sangat diandalkan warga desa, karena letak Puskesmas sangat jauh dari Desa Ramea. Melalui pengamatan langsung, kami melihat bahwa sanitasi di Desa Ramea masih kurang mendapatkan perhatian. Sarana MCK yang masih sangat minim dan tingkat kesadaran warga terhadap kebersihan yang masih rendah menjadikan masalah kesehatan salah satu fokus masalah yang Banu Bangsa ingin selesaikan di Desa Ramea.

Berbekal hasil survey yang telah dilakukan di Desa Ramea, Banu Bangsa akhirnya merancang sebuah grand design  dengan melibatkan para penerima BPI LPDP yang berkontribusi dengan keahliannya masing-masing. Pengembangan masyarakat Desa Ramea ini tentu saja membutuhkan banyak tangan yang terulur agar cita-cita gerakan Menyapa Indonesia terwujud di Desa Ramea, Pendeglang, Banten.

Survei

Sanitasi untuk Ramea

Berkeliling Desa Ramea di tengah panas matahari merupakan hal yang sungguh melelahkan bagi kami. Kami yang tergabung dalam BanuBangsa memiliki misi awal untuk mensurvey kebutuhan dasar warga Ramea yang belum terpenuhi. Kami berusaha mencari akar permasalahan dari taraf hidup masyarakat Ramea yang rendah. Namun yang kami temukan bukan hanya isu sosial ekonomi, namun juga  kesehatan. Terhitung hanya 7 persen dari keluarga di Desa Ramea yang memiliki MCK pribadi. Sisanya, sebanyak 93 persen melakukan aktivitas MCK di sungai maupun di kebun.

Kebiasaan melakukan aktivitas MCK di Sungai dan kebun adalah seakan sudah menjadi budaya di Desa Ramea. Tetapi mereka tidak kuasa melakukan perubahan, minimal membangun MCK pribadi, karena kondisi perekonomian yang tidak mendukung.

Masyarakat yang merasa tidak mampu membangun MCK pribadi ini, kemudian merasa belum membutuhkan MCK pribadi. Selama masih ada Sungai dan kebun-kebun yang terhampar luas, maka masyarakat akan masih merasa nyaman dan tenang hidup tanpa MCK pribadi. Padahal hal tersebut tentu sangat merugikan untuk jangka waktu yang panjang.

desa ramea 1
Gambar 1.4: Kondisi Ramea

Anak-anak Desa Ramea tidak pernah belajar secara informal, atau belajar dari keluarga dan masyarakat bahwa kegiatan MCK di sungai akan mengganggu kesehatan dan dapat merusak alam. Apabila hal ini diteruskan, maka generasi Indonesia tidak akan tumbuh dengan sehat, kuat dan cerdas.

Masyarakat tentu perlu diperkenalkan pada penggunaan MCK pribadi atau MCK umum, atau setidaknya diberi pemahaman mengenai bahaya dan resiko melakukan aktivitas MCK tidak pada tempatnya. Namun sosialisasi tersebut akan sia-sia apabila dilakukan tidak secara berkesinambungan.

Kami merasa bahwa untuk mensukseskan proyek community development ini, butuh sosialisasi dalam bentuk nyata, maka dari itu kami memutuskan untuk membangun MCK umum. Hal ini dilakukan karena masyarakat perlu diperkenalkan dan dibiasakan menggunakan fasilitas MCK tidak hanya instruksi untuk tidak lagi melakukan kegiatan MCK di sungai atau kebun.

Penyuluhan juga butuh dilakukan terutama kepada anak-anak Desa Ramea, pengetahuan bahaya kesehatan yang bisa ditimbulkan dengan melakukan kegiatan MCK di Sungai perlu disosialisasikan sehingga anak-anak aware mengenai hal tersebut.

Kami berharap dengan proyek pengembangan masyarakat ini, tingkat kesehatan masyarakat Desa Ramea bisa meningkat. Karena akses terhadap kesehatan, sanitasi dan air bersih merupakan hak setiap warga, tidak terbatas seberapa jauh mereka hidup dari keramaian perkotaan, tidak terbatas siapa mereka dan apa pekerjaan mereka. Apabila mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk mencapai kehidupan yang lebih layak, maka kita lah yang seharusnya mengulurkan tangan, demi Indonesia kita yang lebih sejahtera.