FB-09

Kelas Inspirasi dan Kelas Mendongeng di SDN Tanjung Anom, Tangerang

Salam Ludira Seta!

Pada hari Sabtu, 04 Maret 2017 yang lalu, Menyapa Indonesia PK-58, Laskar Raseta, kembali menyelenggarakan program “Kelas Inspirasi” dan “Kelas Mendongeng” di SDN Tanjung Anom, Tanjung Kait, Tangerang

Kelas Inspirasi kali ini mengangkat tema profesi, diperuntukkan bagi murid kelas 4, 5, dan 6. Kelas Inspirasi diawali dengan motivasi sekaligus informasi dari Tim Kelas Inspirasi terkait beragam profesi yang dapat dijalani murid-murid di masa depan. Susana semakin meriah ketika adik-adik peserta didik SDN Tanjung Anom diminta untuk menuliskan cita-cita mereka yang kemudian ditempelkan di pohon harapan.

Kelas Mendongeng diperuntukkan bagi murid kelas 1, 2, dan 3. Adik-adik SDN Tanjung Anom terlihat antusias mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Tim Kelas Dongeng.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan alat tulis kepada Ustadz pengajar baca tulis di Tanjung Anom yang bekerjasama dengan Tim Ludira Seta dalam Program Melek Aksara. Berikut ini merupakan foto-foto dari kegiatan tersebut.

FB-01

FB-02

FB-03

FB-04

FB-05

FB-06

FB-07

FB-08

FB-09

FB-10

Menyapa Indonesia Untuk Indonesia Gemilang

peresmian-sakola-abdi_20160606_113108

Sakola Abdi, Aksi ‘MI-53 Ganesha Merangkul’ Mengabdi Kepada Negeri

peresmian-sakola-abdi_20160606_113108

TRIBUNNEWS, JAKARTA – Pemuda merupakan pelaku pembangunan bagi masa depan Indonesia. Salah satu tindak nyata pembangunan sebagai bentuk pengabdian kepada negeri, dilakukan penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) angkatan ke-53 (lima puluh tiga).

Penerima Beasiswa BPI-LPDP Angkatan 53 menggelar suatu program pengembangan masyarakat (community development) yang bertajuk “Ganesha Merangkul-Menyapa Indonesia (MI) Persiapan Keberangkatan (PK) 53”. Ketua Persiapan Keberangkatan Angkatan 53 (PK-53), AtinaIzza menjelaskan program pengembangan masyarakat Ganesha Merangkulmemiliki program utama, antara lain: Sakola Abdi, Rumah Cahaya dan Gala Mengajar.

Berdasarkan survey yang dilakukan, wilayah Dusun 3 Desa Sirnajaya merupakan desa yang paling membutuhkan bantuan pembangunan karena lokasinya yang terletak di atas lereng serta infrastruktur yang belum memadai. Dampaknya, Dusun 3 Desa Sirnajaya kekurangan sarana belajar yang layak.

Sarana belajar yang kurang terlihat dari jumlah ruang kelas yang terdapat hanya 3 (tiga) ruang kelas. Ruang kelas tersebut bergantian digunakan oleh murid kelas I-VI Madrasah Ibtidaiyah dan Kelas VII-IX Madrasah Tsanawiyah. Minimnya ruang kelas memaksa murid-murid belajar di mushola dan teras, bahkan berbagi gedung antara murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Atas dasar itu, gedung sekolah sebagai salah satu pendukung terlaksananya pendidikan, dinilai penting oleh penerima Beasiswa BPI-LPDP untuk dibangun. Rencana pembangunan dimulai dari pemilihan nama sekolah dengan bahasa sunda yakniSakola Abdi yang artinya Sekolah saya.

Selanjutnya, Sabtu, 29 Mei 2016, bertempat di Gedung Sekolah MTs Al Inayah Dusun 3 Desa Sirnajaya, kabupaten Bogor, diresmikan gedung Sakolah Abdi. Peresmian itu dihadiri oleh Penerima Beasiswa BPI-LPDP, Beberapa Pejabat Kementerian, yakni Anwar Sanusi selaku Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Tb. Lutfie Syam selaku Kadis Pendidikan Kabupaten Bogor, dan Abung Sewaka sebagai perwakilan dari BPZIS Mandiri selaku sponsor program Sakola Abdi. Peresmian gedung sekolah disertai juga dengan Sunatan Massal dan Cek Kesehatan Gratis.

“Dengan adanya sekolah ini, semoga menjadikan sumber daya manusia di desa menjadi lebih baik,” tutup Dr Anwar Sanusi, selaku Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Sumber : Tribunnews

survey di sawah

Gerakan “Menyapa Indonesia” Bangun Pertanian Desa Ramea dengan PESAT

Jakarta, Juli 2015, Para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI angkatan ke-40 yang akan menuntut ilmu di berbagai penjuru dunia, merancang sistem pertanian komprehensif dengan sebutan PESAT (Petani Sejahtera) untuk kemajuan Desa Ramea, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Melalui gerakan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia, angkatan 40 yang dinamakan Kemilau Nusantara akan membangun sistem pertanian dari mulai pembibitan, pengolahan produk, pemasaran hasil pertanian hingga pengelolaan keuangan.

PESAT akan diwujudkan melalui lima program yang terdiri dari pembangunan Bank Bibit dan fasilitas pembibitan berbagai tanaman kayu dan sayuran, pelatihan pengolahan limbah melinjo yang merupakan komoditas utama Desa Ramea, penyuluhan manajemen keuangan dan koperasi, serta penyediaan kendaraan logistik guna memudahkan distribusi pemasaran hasil pertanian.

Desa Ramea yang memiliki luas wilayah kurang lebih 572 hektar dan dihuni oleh 3399 jiwa ini memiliki mata pencaharian utama sebagai petani, pedagang, dan tengkulak. Potensi hasil bumi Desa Ramea sangat melimpah, namun tingkat kesejahteraan penduduk di desa tersebut masih berada di bawah garis kemiskinan karena belum maksimalnya pengelolaan dan pemanfaatan potensi pertanian.

Berdasarkan hasil survey Kemilau Nusantara, keterbatasan bibit unggul, kurangnya pengetahuan dan informasi teknologi pertanian, belum tersedianya lembaga pengelola keuangan, serta minimnya transportasi hasil pertanian dari desa ke pasar menjadi permasalahan di Desa Ramea yang menghambat pertumbuhan ekonomi desa.

Salah satu penerima beasiswa BPI LPDP, Tiffani Satya Makharti, yang merupakan Ketua Kemilau Nusantara menyebutkan bahwa bersama 131 teman-teman penerima beasiswa BPI LPDP, bertekad untuk membantu perekonomian Desa Ramea dengan mengembangkan program PESAT.

“Program ini akan dilaksanakan sepanjang bulan Agustus 2015. Program monitoring akan dilakukan secara berkala sampai dua tahun dengan pembuatan laporan kemajuan program setiap 6 bulan bekerjasama dengan para petani lokal.” ujar Tiffani.

Diambil dari Good News from Indonesia: http://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/08/01/gerakan-menyapa-indonesia-bangun-pertaniandesa-ramea-dengan-pesat/

isigood

Penerima Beasiswa BPI-LPDP Bangun Saluran Air Bersih dan MCK di Desa Ramea, Banten

[ISIGOOD.COM] Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)-LPDP yang tergabung dalam kelompok Banu Bangsa menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten. Kegiatan tersebut antara lain membangun saluran air bersih dan mandi, cuci dan kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

LPDP (Lembaga Pengelola Dana Kegiatan Pendidikan) adalah lembaga di bawah Kementerian Keuangan dengan pengawasan dari 3 Kementerian, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Agama Republik Indonesia. LPDP bertugas mengelola dana abadi pendidikan yang dana hasil kelolanya digunakan untuk mempersiapkan calon pemimpin muda masa depan melalui pemberian dana pendidikan untuk beasiswa dan riset kepada putra-putri terbaik Bangsa Indonesia

Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI-LPDP juga selaku Ketua Kelompok Banu Bangsa menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami,” ujar Galuh.

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.

Di samping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, ke depannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tambah Galuh.

Banu Bangsa sendiri adalah kelompok anak-anak muda Indonesia penerima beasiswa LPDP. Melalui kelompok ini, mereka berusaha mempersembahkan kontribusi terbaik untuk Indonesia. Dengan semangat optimisme, Banu Bangsa berusaha menumbuhkan harapan untuk masyarakat Indonesia. Banu Bangsa datang dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia, terpencar dari berbagai pulau di Indonesia, namun mereka memiliki satu tujuan yang sama: memajukan Indonesia. Melalui program pengembangan masyarakat (community development) yang bernama Menyapa Indonesia, mereka berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di beberapa lokasi daerah tertinggal di Indonesia yang masih belum terjamah oleh pendidikan dan teknologi.

(Artikel ini telah dimuat di situs online isigood.com, Kamis, 30 Juli 2015)

tautan : www.isigood.com/hal-baik-hari-ini/penerima-beasiswa-bpi-lpdp-bangun-saluran-air-bersih-dan-mck-di-desa-ramea-banten/

Petani Ramea

Penerima Beasiswa LPDP Membangun Desa lewat “Menyapa Indonesia”

Jakarta – Sebanyak 128 penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI mengadakan akan mengadakan aksi Menyapa Indonesia dengan serangkaian program pemberdayaan masyarakat di Desa Ramea, Provinsi Banten yang merupakan kawasan desa tertinggal. Salah satu tujuan pengiriman pemuda-pemuda yang terpilih dalam beasiswa LPDP untuk bersekolah S2 atau S3 di dalam maupun luar negeri adalah melakukan pengabdian masyarakat untuk berkontribusi pada pembangunan negara.

Program pemberdayaan ini adalah rangkaian aktivitas pembangunan saluran air bersih dan MCK yang menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan. Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI- LPDP juga selaku ketua kelompok pelaksana pembangunan desa bernama Banu Bangsa mengungkapkan, “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami,” pungkas Galuh.

Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga. [ITS]

 

(artikel ini ditayangkan di portal online indonesiatravelmagz.com, Jumat, 24 Juli 2015)

tautan : http://indonesiatravelmagz.com/travel/index.php/specialinterest/article/52/#.VboFaLVRquJ

sanitasi-buruk (sumber : Antara)

Minim MCK, Banu Bangsa Kembangkan Program Sanitasi Di Banten

Bisnis.com, JAKARTA – Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)–LPDP yang tergabung dalam kelompok Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten.

Ketua Banu Bangsa Galuh Ainur Rohmah mengatakan tiga kegiatan tersebut ialah membangun saluran air bersih dan mandi, cuci & kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2015).

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki satu MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten.

Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang.

“Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga,” ujar Galuh

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui  sponsorship dan crowdfunding.

Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami.

Galuh menyampaikan pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini.

Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.

Disamping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan agar menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tutur Galuh.

(artikel ini telah dimuat di portal online bisnis.com , Kamis, 23 Juli 2015)

Tautan : http://manajemen.bisnis.com/read/20150723/240/455672/minim-mck-banu-bangsa-kembangkan-program-sanitasi-di-banten

Ilustrasi Pembangunan Desa (kismantoro.or.id)

Penerima Beasiswa Salurkan Dana Untuk Pembangunan MCK

Jakarta, 23/7 – Sebanyak 128 penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menyalurkan Rp152 juta untuk pembangunan saluran air bersih serta mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Desa Ramea, Banten.

Penerima BPI LPDP Galuh Ainur Rohmah yang juga Ketua Kelompok Banu Bangsa di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga (KK), hanya memiliki satu MCK umum, yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten.

Ia menyebutkan sebanyak 7 persen rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sebagian besar lainnya, masih melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang.

Oleh karena itu, kata dia, pembangunan sarana itu sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga setempat.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini,” katanya.

Adapun teknis pelaksanaannya, kata Galuh, akan melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihaknya.

Ia mengatakan bahwa pembangunan saluran air bersih dan MCK yang diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih Rp152 juta tersebut menggunakan dana yang diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding.

Selain melakukan pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, Galuh mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat.

Guna mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, kata dia, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi dua pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, ke depannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” katanya.

(Artikel ini telah dipublikasikan di selasar.com tanggal 23 Juli 2015)

tautan : http://bit.ly/1KAAfQn

lpdp-_150725185103-313

Penerima Beasiswa BPI-LPDP Bangun Saluran Air Bersih di Desa Ramea

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)-LPDP yang tergabung dalam kelompok bernama Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten yaitu membangun saluran air bersih dan mandi, cuci dan kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat, serta pemberian beasiswa kebidanan.

Salah satu penerima beasiswa BPI-LPDP juga selaku ketua kelompok Banu Bangsa, Galuh Ainur Rohmah, menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten.

Selain itu hanya 7 persen rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami”, ujar Galuh dalam siaran pers yang diterima ROL, Sabtu (25/7).

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih Rp 152 juta, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.

Di samping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi dua pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, kedepannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” kata Galuh menambahkan.

 

(artikel ini telah dimuat di Republika Online, Sabtu, 25 Juli 2015)

tautan : http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/07/25/ns1kxw291-penerima-beasiswa-bpilpdp-bangun-saluran-air-bersih-di-desa-ramea

DSC00984

Aksi “Menyapa Indonesia” Ubah Melinjo Bernilai Ekonomi Tinggi

Jakarta – Para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI mengadakan aksi Menyapa Indonesia, serangkaian program pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah yang dianggap masuk dalam kawasan tertinggal.

Di tahap awal, Menyapa Indonesia akan melakukan sejumlah kegiatan di Provinsi Banten. Salah satunya adalah di desa Cikumbueun, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Di desa yang dihuni sekitar 3.600 jiwa ini, beberapa kegiatan yang diadakan para calon penerima BPI LPDP yang tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) 35 hingga 37 ini adalah perbaikan infrastruktur jalan sepanjang kurang lebih 3 km, serta pelatihan pengolahan produk kulit melinjo untuk para perempuan dan ibu rumah tangga.

“Untuk perbaikan jalan, akan kami mulai pada akhir bulan Juli 2015 nanti dan targetnya bisa tuntas dalam jangka waktu satu tahun,” kata Nur Khairusy Syakirin, Ketua Panitia Bidang Teknis Menyapa Indonesia Nur Khaiarusy Syakirin dalam rilis yang diterima Beritasatu.com, Senin (13/7).

Sedangkan terkait pelatihan pengolahan kulit melinjo sendiri, sudah dimulai sejak Sabtu (11/7/2015). Pelatihan ini diadakan mengingat potensi tanaman melinjo di Desa Cikumbueun yang cukup besar dan mengangkat perekonomian masyarakat setempat apabila dikelola secara tepat.

Karena itu, rangkaian pelatihan ini tidak hanya akan berhenti pada cara mengolah kulit melinjo menjadi produk dengan nilai lebih, tetapi juga termasuk pelatihan pemasaran produk.

“Melalui Menyapa Indonesia, kami ingin menunjukkan bahwa masih ada orang- orang atau para pemimpin muda Indonesia yang peduli terhadap orang – orang yang terpinggirkan,” ujar Hendra Etri Gunawan, Penanggung Jawab angkatan PK 35 dan 36 yang sekaligus salah satu konseptor Menyapa Indonesia.

Desa Cikumbueun dipilih menjadi salah satu wilayah sasaran program Menyapa Indonesia karena perekonomian masyarakatnya yang terbilang lemah. Di sini, mayoritas warga bekerja sebagai petani dengan pendapatan yang cukup jauh di bawah Upah Minimum Kota /Kabupaten (UMK) Pandeglang yang sebesar Rp 1.737.000.

Kondisi demikian membuat mereka sulit mengakses kesejahteraan. Bahkan sebagian besar warga hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Sekolah Dasar. Setiap tahun, hasil panen tanaman tersebut bisa mencapai 50 ton.

Belum meratanya perekonomian masyarakat setempat, juga dipicu kondisi infrastruktur yang belum memadai dan mendukung pertumbuhan perekonomian. Sebagian besar jalan di Desa Cikumbueun rusak parah. Kondisinya yang berbatu-batu, sulit diakses pada saat hujan karena rawan menyebabkan kecelakaan.

Kondisi yang demikian juga menyebabkan masyarakat luar sulit menembus desa ini. Salah satu dampaknya, pertumbuhan investasi pun rendah. Padahal potensi hasil bumi di desa ini cukup luar biasa. Salah satu komoditas yang banyak ditemukan di desa ini adalah Melinjo.

Firda Puri Agustine/FIR

(Artikel ini dimuat di situs beritasatu.com pada Senin, 13 Juli 2015 | 11:23).

link : http://www.beritasatu.com/ekonomi/290715-aksi-menyapa-indonesia-ubah-melinjo-bernilai-ekonomi-tinggi.html

cikumbueun 2

Penerima Beasiswa Kemenkeu Bangun Infrastruktur Desa Tertinggal

Surabaya (Antara Jatim) – Sejumlah calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI siap mengadakan serangkaian program pemberdayaan masyarakat, khususnya pembangunan infrastruktur di kawasan tertinggal.

“Pada tahap awal, program bertajuk ‘Menyapa Indonesia’ akan melakukan sejumlah kegiatan di Provinsi Banten. Salah satunya adalah di desa Cikumbueun, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang,” kata Ketua Panitia Bidang Teknis Menyapa Indonesia, Nur Khairusy Syakirin di Surabaya, Jatim Minggu.

Ia mengungkapkan, di desa yang dihuni sekitar 3.600 jiwa itu ada beberapa kegiatan yang diadakan para calon penerima BPI LPDP yang tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) 35 hingga 37. Misalnya, perbaikan infrastruktur jalan sepanjang kurang lebih tiga Km.

“Bahkan pelatihan pengolahan produk kulit melinjo untuk kalangan perempuan dan ibu rumah tangga,” ujarnya.

Untuk perbaikan jalan, jelas dia, program itu akan dimulai pada akhir bulan Juli 2015. Lalu, targetnya bisa tuntas dalam jangka waktu satu tahun.

“Ke depan, program seperti ini juga akan menyentuh daerah-daerah lain di Indonesia yang masih tertinggal,” tuturnya.

Sementara, tambah dia, terkait pelatihan pengolahan kulit melinjo sendiri sudah dimulai sejak Sabtu (11/7). Pelatihan itu diadakan mengingat potensi tanaman melinjo di Desa Cikumbueun yang cukup besar.

“Hal itu berpotensi mengangkat perekonomian masyarakat setempat apabila dikelola secara tepat,” ucapnya.

Oleh karena itu, sebut dia, dalam rangkaian pelatihan ini tidak hanya berhenti pada cara mengolah kulit melinjo menjadi produk dengan nilai lebih. Akan tetapi juga termasuk pelatihan pemasaran produk.

“Dengan upaya ini, kami berharap perekonomian masyarakat yang tersentuh program ini bisa mengalami peningkatan,” katanya.

Konseptor Menyapa Indonesia, Hendra Etri Gunawan mengemukakan, melalui kegiatan itu pihaknya ingin menunjukkan bahwa masih ada orang atau para pemimpin muda Indonesia yang peduli terhadap orang – orang yang terpinggirkan.

Sementara, Desa Cikumbueun dipilih menjadi salah satu wilayah sasaran program Menyapa Indonesia karena perekonomian masyarakatnya yang terbilang lemah.

“Di desa itu, mayoritas warga bekerja sebagai petani dengan pendapatan yang cukup jauh di bawah Upah Minimum Kota /Kabupaten (UMK) Pandeglang yang sebesar Rp1.737.000,” tambahnya.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noer

 

COPYRIGHT © ANTARA 2015

(artikel ini dimuat di portal Antara Jatim, Minggu, 12 Juli 2015 19:04 WIB)

http://www.antarajatim.com/lihat/berita/160769/penerima-beasiswa-kemenkeu-bangun-infrastruktur-desa-tertinggal