FB-09

Kelas Inspirasi dan Kelas Mendongeng di SDN Tanjung Anom, Tangerang

Salam Ludira Seta!

Pada hari Sabtu, 04 Maret 2017 yang lalu, Menyapa Indonesia PK-58, Laskar Raseta, kembali menyelenggarakan program “Kelas Inspirasi” dan “Kelas Mendongeng” di SDN Tanjung Anom, Tanjung Kait, Tangerang

Kelas Inspirasi kali ini mengangkat tema profesi, diperuntukkan bagi murid kelas 4, 5, dan 6. Kelas Inspirasi diawali dengan motivasi sekaligus informasi dari Tim Kelas Inspirasi terkait beragam profesi yang dapat dijalani murid-murid di masa depan. Susana semakin meriah ketika adik-adik peserta didik SDN Tanjung Anom diminta untuk menuliskan cita-cita mereka yang kemudian ditempelkan di pohon harapan.

Kelas Mendongeng diperuntukkan bagi murid kelas 1, 2, dan 3. Adik-adik SDN Tanjung Anom terlihat antusias mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Tim Kelas Dongeng.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan alat tulis kepada Ustadz pengajar baca tulis di Tanjung Anom yang bekerjasama dengan Tim Ludira Seta dalam Program Melek Aksara. Berikut ini merupakan foto-foto dari kegiatan tersebut.

FB-01

FB-02

FB-03

FB-04

FB-05

FB-06

FB-07

FB-08

FB-09

FB-10

Menyapa Indonesia Untuk Indonesia Gemilang

2

Laskar Raseta Berkibar di Desa Tanjung Kait

Salam Ludira Seta!

Pada Sabtu, 27 Agustus 2016 lalu, Laskar Raseta yg diwakili oleh 14 orang Awardee BPI LPDP dari berbagai penjuru Indonesia menyelenggarakan berbagai perlombaan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-71.

Terdapat berbagai perlombaan diantaranya lomba cerdas cermat yang disusun layaknya Lomba Rangking 1 di televisi, lomba puzzle pahlawan, lomba kekompakan ibu dan anak, serta lomba joget balon yang turut memeriahkan suasana perlombaan

3

Semangat Kemerdekaan sangat kental terasa karena beberapa pertanyaan dalam lomba cerdas cermat menyangkut HUT Republik Indonesia, begitu pula dalam lomba puzzle, sambil berlomba adik-adik juga dikenalkan kepada sosok pahlawan Kemerdekaan RI.

Perlombaan diakhiri dengan pembagian hadiah berupa ransel dan alat tulis dengan harapan adik-adik Tanjung Kait akan semakin giat dalam belajar dan memaknai Kemerdekaan sebagai bentuk tanggung jawab untuk memimpin bangsa Indonesia di masa yang akan datang

Diakhir kegiatan, Laskar Raseta juga menyerahkan Kibot dari PT. Gongshin yang diterima oleh Ibu Kepala Desa. Kibot akan sangat bermanfaat dalam setiap kegiatan dan dapat digunakan sebagai alat penunjang pembelajaran di Sekolah.

🙆 Terima kasih kakak-kakak Laskar Raseta yang sudah mendukung terselenggaranya perlombaan HUT RI ke-71 ini

🙋 Sampai bertemu di kunjungan berikutnya!

Laskar Raseta,
Merah semangatnya,
Putih cita-citanya 👊

Menyapa Indonesia
Untuk Indonesia Gemilang ✊
——————————————————-
Ikuti cerita terbaik kami lainnya di
Website: http://menyapa-indonesia.com
IG: menyapanesia | http://bit.ly/1SfNcy7
Twitter: @menyapanesia | https://twitter.com/menyapanesia

Info lebih lanjut tentang MI PK-58 di
FB: Ludira Seta PK-58 LPDP
Twitter: @lpdpludiraseta
Instagram : @lpdpludiraseta
Website : ludiraseta.org
You tube channel : LPDP Ludira Seta*
*Coming soon

Sumber: Ludira Seta

Jual Gula Semut Nilas, Ampyang, dan Kacang Disco

Unknown-12

GULA SEMUT

kemasan 200gr :
eceran : @11.000
>10pcs :@9.000
>30pcs :@8.500
Harga plastik biasa
eceran : @10.000
>10 pcs :@ 8.000
>30 pcs :@ 7.500

Harga curah
eceran/kg : @40.000
>10kg :@35.000

 

GULA SEMUT JAHE
untuk kemasan 200gr yg berdiri :
eceran : @12.000
>10pcs :@10.000
>30pcs :@9.500

harga plastik biasa
eceran : @11.000
>10 pcs :@ 9.500
>30pcs : @9.000

Harga curah
eceran/kg : @45.000
>10kg :@40.000

Unknown-11

AMPYANG
eceran :@14.000
>10pcs : @12.000

KACANG DISCO
eceran :@ 15.000
>10pcs :@ 13.000

Pengiriman dri Jogja ya bisa hub Ayu :
+62 818-0239-3793

Di Bawah Langit Dukuh Sebatang

Siang itu turun hujan, di sebuah rumah yang berjarak dari jalan aspal, jauh dari jalan raya, juga tidak terpetakan dari pusat kota, saya duduk menonton tiga anak bermain lempar bola di teras. Pagi hari, penderes nira naik ke pucuk pohon kelapa, lalu turun memikul sajeng (air nira) dalam tabung-tabung kayu yang dipikul di pundak, melintasi jalanan berbukit terjal yang menukik dan berbelok tajam. Oleh mereka, sajeng ini disetor ke pengolah nira untuk dimasak dan diproduksi jadi gula merah.

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

“Kamu suka hujan?” Saya memeluk lutut sambil duduk merapat ke arahnya, mempersingkat jarak.

“Ndak, Mbak.” Ia menjawab singkat.

“Lebih suka musim panas?” Saya bertanya lagi. Ia hanya mengangguk singkat tanpa kata. Masih asing dengan kehadiran saya.

“Kenapa?” saya bertanya lagi. Semoga pekerjaan sehari-hari yang mengharuskan saya sering bertanya sampai jadi kebiasaan, tidak membuat anak kelas 4 SD ini dongkol. Ia menggeleng lagi, menghindari tatapan mata saya. Mungkin karena terdengar menguji seperti soal Bahasa Indonesia di buku LKS yang tidak ia sukai, sementara ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara hujan di luar masih turun dengan derasnya.

Kunjungan singkat saya selama dua hari ke Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kulonprogo, Yogyakarta kali ini adalah dalam rangka bertemu dengan adik asuh dalam program pendidikan Menyapa Indonesia yang dijalankan oleh penerima beasiswa LPDP RI. Layaknya anak-anak desa pada umumnya, anak-anak Sebatang pemalu di depan orang asing. Jangankan beropini, berbicara sambil memandang lurus mata orang yang mengajak berbicara pun tak berani.

Si Mbah mengolah nira jadi gula kelapa
Si Mbah mengolah nira jadi gula kelapa

Anak itu bernama Zandy, adik asuh yang dipasangkan oleh Rizka sebagai Kakak Inspirasi. Sementara saya sendiri menjadi Kakak Inspirasi bagi Rimba, seorang anak laki-laki berbadan tambuh yang lebih periang, namun sama curiganya dengan kehadiran orang baru yang tiba-tiba. Kami baru saja berkunjung ke rumah Rimba sebelum menghampiri rumah Zandy. Rimba dan Zandy adalah teman sekelas. Dari salah satu teman koordinator program saya diam-diam mencatat hasil pemetaan observasi, mereka senang bermain di luar ruangan; Rimba senang bersepeda dan Zandy senang bermain layangan.Si Mbah mengolah nira jadi gula kelapa

“Nek hujan, ra iso main layangan po?” celetuk saya sambil curi pandang ke layangan kuning-biru besar di sudut ruangan. Memegangnya dengan hati-hati, takut merusak benda kesayangan Zandy yang berharga ini.

“Ho’oh,” merasa terbantu dengan pertanyaan yang dijawab sendiri oleh orang yang menanyakan, Zandy tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang besar-besar. Dua anak yang lain menghentikan permainan dan merapat ke perbincangan kami.

“Yo nyanyi wae lah nek ngono!” di tengah percikan hujan yang memantul-mantul di genteng, saya ambil tempo dengan tepukan tangan, bersiap memimpin paduan suara, “Ku ambil buluh sebatang.. Ku potong sama panjang.. Ku raut dan ku timbang dengan benang.. Ku jadikan layang-layang…”

Hening. Tidak ada yang pernah mendengar lagu itu sebelumnya kecuali saya, seseorang dengan usia yang berjarak, serta ruang kehidupan yang sebelumnya terpisah. Jauh.

Fungsi Pendampingan dalam Proses Belajar Anak adalah Tugas Bersama

Zandy, Rimba, Ridho, Shafiq, Edi, Bherta, Dwi Astari, dan Dwi Riyanti. 8 orang anak kelas 4 SD Muhammadiyah Menguri ini selama 3 tahun ke depan menjadi adik-adik asuh kami. Amanah baru bagi kami di Menyapa Indonesia.

Program Menyapa Indonesia adalah inisiatif sosial yang dikembangkan oleh awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia. Setiap angkatan memiliki fokus yang pengembangan masyarakat yang berbeda, secara berkelanjutan selama tiga tahun. Jivakalpa, angkatan 43, fokus pada pengembangan masyarakat di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sebatang. Cetak biru rencana kegiatan, pengembangan, dan monitoring evaluasi berkelanjutan telah dibuat dengan tidak main-main. Meski lokasi program Menyapa Indonesia kami berada di Yogyakarta, hampir setiap minggu ketika program berjalan, beberapa awardeedari luar kota menyempatkan hadir.

Forum Kakak dan Wali Inspirasi yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 2015 ini merupakan salah satu program di bidang pendidikan. Forum tersebut mengundang orang tua dan wali siswa, siswa, guru, dan kepala sekolah untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang pendampingan anak. Di dalamnya, anak-anak didorong untuk berprestasi, memiliki semangat belajar tinggi, dan berani mencoba melakukan hal-hal yang mereka sukai. Forum ini juga dijadikan ajang “kulo nuwun” untuk pendekatan pendamping anak dengan pihak sekolah dan keluarga.

Orang tua dan wali bersama siswa dalam forum

 “Dulu belum pernah ada pertemuan wali dengan sekolah. Setelah ada program Menyapa Indonesia, semua merasa memiliki program ini dan mau hadir di sini,” kata Bu Uji, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Menguri. Bu Uji ini adalah tipikal kepala sekolah yang aktif dan bersemangat mendampingi anak didiknya dalam proses belajar, namun masih belum mendapatkan dukungan maksimal dari orang tua dan wali murid.

Saya termenung. Masalah klasik yang jarang ditemui di kota karena setiap orang tua yang bayar mahal tentu rajin mencari tahu perkembangan anaknya di sekolah. Namun di desa, jangankan bertemu dengan pihak sekolah, untuk bertemu anak pun, banyak masih terhalang ruang dan waktu. Tuntutan ekonomi membuat beberapa orang tua siswa bekerja sebagai TKI di luar negeri, bertahun-tahun tidak pulang. Pun bekerja di sekitar desa, mata pencaharian sebagai supir truk, peternak, dan penderes nira cukup menyita waktu sehingga edukasi anak tersingkir ke nomor sekian setelah urusan perut dan kemelut kehidupan.

Padahal, tanpa pendamping, anak akan tumbuh menjadi burung yang melihat dunia dalam sudut sangkar yang persegi empat, ketika di luar sana ada horizon yang melintang tanpa sudut batas. Sempat saya iseng ngobrol dengan seorang bapak yang rumahnya kami tinggali untuk bermalam, tentang pendidikan anaknya. “Wah ndak tau, Mbak. Sekolahnya anak itu urusan ibunya anak-anak. Saya sibuk sama kerjaan e, Mbak.”  

Saya nyengir kuda. Lha kalau bapak berharap ke ibu, ibu  berharap ke guru, guru berharap ke kepala sekolah, kepala sekolah berharap ke kami, kami berharap ke siapa dong?

Lingkaran kejar-kejaran ini lumrah ditemui di berbagai pelosok di Indonesia. Oleh karenanya program pemberdayaan masyarakat idealnya digalang untuk berjalan dalam waktu panjang. Karena proses pendekatan, seperti yang siang itu saya lakukan kepada Rimba dan Zandy, memang tidak bisa secepat merebus mie instan, lima menit jadi, sepuluh menit kenyang.

Andai semudah itu…

Sepucuk Surat dan Khayalan tentang Masa Depan

Bagi saya dan teman-teman, hadir ke Sebatang bukan hanya perkara menyisihkan budget untuk transportasi dan waktu akhir pekan untuk berjalan lebih jauh. Tapi melihat bahwa ruang interaksi kami yang sempit ternyata bisa menjadi lebar jika sudah bertemu. Jika sudah kenal, dekat, saling percaya, maka fungsi pendampingan menjadi sesederhana menjadi teman sepermainan bagi semua pihak yang sedang berjuang di sana.

Salah satu usaha pendekatan yang kami lakukan adalah mengirimi surat motivasi kepada adik asuh di sana. Beberapa teman juga menjembatani tukar sapa antara teman-teman di UK dari asosiasi alumni LPDP, Mata Garuda, yang mengirimkan kartu pos kepada mereka. Semua anak mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika saya tanya siapa yang ingin ke Inggris. Sebelumnya, Mas Sandro bercerita di depan kelas tentang empat musim di Inggris ketika dia tinggal dan bekerja di sana. Surat dan cerita jadi bahan bakar kami mengkhayal tinggi-tinggi. Ke negeri yang tanahnya belum tersentuh, yang namanya tersohor lewat olahraga sepak bola yang setiap sore dimainkan anak-anak di Sebatang.

Zandy (baju hijau), adiknya (baju putih), temannya (baju merah), dan saya yang berjuang keras menarik perhatian mereka dengan topeng gorila
Zandy (baju hijau), adiknya (baju putih), temannya (baju merah), dan saya yang berjuang keras menarik perhatian mereka dengan topeng gorila

Mungkin karena itu, sepulang sekolah, Zandy yang ibunya sudah bertahun-tahun tidak pulang karena bekerja di Hongkong, menulis surat balasan untuk Rizka dan menyerahkannya tanpa suara.


Halo Kak Rizka,

Ini Zandy. Ini ada surat untuk Kak Rizka.

Semoga Kak Rizka bisa tersenyum.

Semoga Kak Rizka semangat kuliyahnya.

Kalau aku di Sebatang Belajar untuk meraih cita-cita ku. Saya belajar mahrib sampai insyak. Aku Juga Belajar dengan tekun.

Salam

Zandy

Tanda tangan


“Terima kasih ya, Zandy. Suratmu bagus sekali.” Rizka memeluk adik asuhnya di depan saya. Zandy hanya diam, tertunduk. Sedetik kemudian ia mulai terisak, menggulirkan butir-butir bening dari matanya yang mendung dan basah. Entah karena malu atau karena berharap suatu saat, ibunya yang mengirimkan surat dan memuji surat balasannya. Rizka ikut menitikkan air mata, sementara di luar hujan masih turun dengan derasnya.

Di sudut rumah yang dipenuhi mainan yang dikirimkan dari Hongkong, hari itu saya mencoba memahami, Zandy lebih suka bermain di luar, menerbangkan layangan sekaligus khayalan. Mungkin ada pesan yang tidak terucapkan dengan kata, yang hanya bisa dimengerti oleh angin dan dua musim di bawah langit Sebatang.

Senyap karena Zandy dan Rizka masih menangis tanpa suara, saya yang merasa canggung lalu menepuk-nepuk pundak mereka berdua sambil bersenandung pelan.

“Bermain… Berlari… Bermain layang-layang.

Bermain ku bawa ke tanah lapang.

Hati gembira dan riang…”

Penulis : Shofi Awanis

Originally posted at JivaKalpa.com

Banu Bangsa Logo

Mengenal Banu Bangsa

Banu Bangsa adalah sekelompok anak muda Indonesia penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)  dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, yang masuk dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke-38.

Melalui kelompok ini, kami berusaha mempersembahkan kontribusi terbaik untuk Indonesia. Dengan semangat optimisme, kami berusaha menumbuhkan harapan untuk masyarakat Indonesia. Kami datang dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia, terpencar dari berbagai pulau di Indonesia, namun kami memiliki satu tujuan yang sama: memajukan Indonesia.

Banu Bangsa beranggotakan tak kurang dari 100 anggota. Salah satu agenda penting yang saat ini sedang kami kerjakan adalah melakukan community development di sebuah desa tertinggal di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Mari, bersama kami, bergandengan, memberikan semangat perubahan untuk masa depan yang lebih baik.Continue reading

FIX (1)

Kemilau Nusantara Bercerita: Desa Ramea

Kemilau Nusantara adalah anak-anak bangsa yang memiliki cita-cita memberikan sumbangsih membangun bangsa. Kami adalah penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) angkatan Persiapan Keberangkatan (PK) ke 40. Salah satu bentuk konkrit kami dalam memberikan sumbangsih membangun bangsa adalah dengan berkontribusi dalam proyek besar pengembangan masyarakat, Menyapa Indonesia.

Kita mengenal dengan sebutan 3T untuk wilayah-wilayah yang dikategorikan sebagai wilayah Terluar, Terpencil, dan Tertinggal. Pengalaman kami dalam survey kedua ke Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, membuat kami menyadari bahwa Desa ini memang tidak termasuk dalam golongan 3T, namun malah seperti membuat golongan sendiri. Yakni golongan 6T: Tidak Terluar, Tidak Terpencil, Tapi Tertinggal.

Ironis, jaraknya tidak sampai 120 km dari pusat provinsi Banten yang memiliki banyak mal, pusat perbelanjaan modern dimana kelas menengah keatas menghabiskan waktu dan uangnya. Kondisi desa Ramea dan hingar bingarnya pusat provinsi Banten, mencerminkan betapa kesenjangan di masyarakat tidak mengenal jarak geografis.

Salah satu anak di Desa Ramea
Gambar 1.  Anak Desa Ramea

Untuk menjangkau Desa Ramea, khususnya Kampung Turalak, dibutuhkan waktu hampir dua jam dari ujung jalan beraspal. Padahal, jaraknya kurang lebih hanya 3 km. Dapat dibayangkan bagaimana medan yang harus dilalui sehingga waktu tempuh yang dibutuhkan mencapai hampir dua jam.

Sebagian besar penduduk Desa Rame masih tergolong dalam keluarga prasejahtera.  Di desa yang dihuni sekitar 85 keluarga ini 60 persen warganya mengenyam pendidikan hanya sampai di bangku Sekolah Dasar. Hanya 0.3 persen dari mereka yang dapat melanjutkan sekolah hingga tingkat sarjana.

Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya Ramea memiliki banyak potensi terutama di bidang pertanian. Hanya saja pengelolaan dan pemanfaatan potensi yang sudah ada belum maksimal karena sistem yang dikembangkan di desa tersebut masih konvensional.Continue reading

idea

Proyek Menyapa Indonesia adalah ide yang brilian

Vinsensius Dicky, Ketua Proyek “Menyapa Indonesia” Angkatan Pra PK-36 :

“Bagi saya, Proyek Menyapa Indonesia adalah ide yang brilian….”

Saat terpilih menjadi Ketua Proyek Menyapa Indonesia dari PK-36, saya senang karena dapat berkontribusi ke masyarakat secara langsung, dan diberikan kepercayaan untuk memimpin dan bekerja sama dengan para penerima beasiswa PK36 yang mempunyai kemampuan luar biasa di bidang masing-masing, serta komitmen yang kuat terhadap tugas dan kewajiban yang diberikan. Saya juga merasa tertantang untuk bersama penerima beasiswa dalam membuktikan PK-36 adalah angkatan LPDP yang kompak dan berdampak positif bagi masyarakat yang dilayani.

Dalam persepsi saya, “Menyapa Indonesia” adalah perwujudan nyata penerima beasiswa LPDP dalam memberikan kontribusi langsung ke masyarakat Indonesia, terutama di daerah yang masih tertinggal dalam sisi infrastruktur, teknologi, dan juga kesejahteraan. Bagi penerima beasiswa ini, “Menyapa Indonesia” merupakan ruang belajar yang dapat dimanfaatkan untuk mengasah kesiapan mental dan fisik, serta kesanggupan mereka dalam bekerja keras di dalam keterbatasan dan tekanan yang diberikan agar kedepannya dapat menjadi kecemerlangan saat nanti membawa nama Indonesia ke jenjang studi magister/doktoral di dalam atau luar negeri.

Bagi saya, Proyek “Menyapa Indonesia” adalah ide yang brilian dari tim LPDP dalam mengajak dan memberikan kesempatan para penerima beasiswa untuk benar-benar berkontribusi dan berdampak secara nyata dan positif langsung ke masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Walaupun waktu yang diberikan cukup singkat, saya yakin bersama PK-35 dan PK-37, PK-36 dapat menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan secara maksimal. Saya percaya, kami semua dipilih karena pertimbangan komitmen kami dalam mengabdi terhadap tanah air, sehingga dapat menjamin kontinuitas dan sustainability dari Proyek “Menyapa Indonesia”.Continue reading

l_259

Menyapa Indonesia : Gotong Royong dan Solidaritas Masih Ada

Adwitiya, Ketua Pra-PK 35 BPI LPDP:

“…di luar sana, masih ada kelompok-kelompok yang peduli, yang mencintai negeri, dan ingin ambil bagian dalam upaya peningkatan kualitas hidup orang lain.”

Tanpa pernah mengenal satu sama lain sebelumnya, para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) disatukan dalam sebuah kegiatan bersama : Menyapa Indonesia. Lewat program ini, pemuda dan pemudi terbaik di negeri ini ingin menunjukkan kontribusinya bagi masyarakat, khususnya masyarakat di kawasan-kawasan tertinggal yang belum tersentuh pembangunan dan membutuhkan uluran tangan.

Menyapa Indonesia adalah program yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai positif ini tidak saja dirasakan oleh masyarakat di lokasi sasaran, tetapi juga oleh penggerak dan pelaksana program.Continue reading