Tim MI PK-41 dan Warga Sebatang dalam Proses Pembangunan Jamban

Sapa Sebatang Arisan Jamban MI PK-41

 Arisan Jamban yang Bukan Sembarang Arisan

Pelatihan Kader Kesehatan dan Sosialisasi Arisan Jamban di Dukuh Sebatang

Profil Desa

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2015, tingkat kemiskinan di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 23,38%. Salah satu bagian Kecamatan Kokap yang terpilih sebagai tempat pelaksanaan program Menyapa Indonesia (MI), Dukuh Sebatang, mengalami ketimpangan sosial masyarakat yang cukup besar. Salah satunya dari segi kesehatan. Lokasi ini memiliki beberapa permasalahan kesehatan seperti penyakit degeneratif dan ISPA yang menjangkit sebagian masyarakat, fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang kurang memadai, kesulitan akses air bersih, sarana pelayanan kesehatan yang minim, dan banyak rumah warga yang belum masuk kriteria rumah sehat.

Deskripsi Kegiatan

Infografis Arisan Jamban

 

Jamban merupakan salah satu sarana sanitasi dasar yang harus dimiliki setiap warga masyarakat. Penggunaan jamban yang tepat dapat membentuk lingkungan yang bersih dan sehat. Disamping itu, pencemaran sumber air disekitar jamban dan keberadaan lalat atau serangga lain yang dapat membawa penyakit menular (diare, kolera, disentri, dan tipus) dapat dihindari.

Sebelum program MI berjalan, terdapat 56 rumah warga Dukuh Sebatang yang belum memenuhi persyaratan rumah sehat. Oleh karena itu, untuk menjamin ketersediaan jamban sehat dan ekonomis bagi warga Dukuh Sebatang, Tim MI PK-41 melakukan aksi pemberdayaan masyarakat (community development) melalui Program Arisan Jamban.

Mengapa disebut Arisan Jamban? 

Program ini  dirancang layaknya arisan pada umumnya. Warga diwajibkan membayar iuran senilai Rp 1.000, 00 per hari untuk membangun jamban. Pada tahap selanjutnya dilakukan pengocokan nama warga setiap sebulan sekali. Warga yang memperoleh arisan akan mendapat giliran untuk pembangunan jamban terlebih dahulu. Adapun proses pembangunan jamban dibagi menjadi 5 kloter dalam kurun waktu 5 bulan.

Sistem arisan dirancang untuk meringankan beban para warga melalui subsidi pembangunan jamban. Hal ini juga bertujuan untuk membentuk kemandirian warga setempat. Tim MI PK-41 berharap melalui urunan pribadi, warga Dukuh Sebatang tidak hanya sekedar menikmati pembangunan tetapi juga timbul rasa kepemilikan dan tanggung jawab  untuk menjaga kebersihan dan kesehatan jambannya

Dana yang terkumpul dari urunan warga dan donatur akan disalurkan untuk pemeliharaan jangka panjang program kesehatan lainnya. Proses pengawasan dan evaluasi akan dilaksanakan oleh Tim MI PK-41 selama 2 tahun guna menjaga lingkungan hidup sehat yang berkelanjutan di Dukuh Sebatang. Pembangunan jamban telah melibatkan warga Dukuh Sebatang secara langsung dan kami juga ikut mengajak warga untuk dapat memeliharanya. Program Arisan Jamban diharapkan bermuara pada satu tujuan, yaitu peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Dukuh Sebatang yang berkelanjutan.

Gotong Royong Membangun Jamban
Gotong Royong Membangun Jamban

Tim MI PK-41 juga memiliki 3 program kesehatan lain yang dijalankan di Dukuh Sebatang antara lain :

1. Program Kader Penyuluh Kesehatan

Aktivitas  program ini meliputi penyuluhan ODF (STOP BABS) dan pelatihan “Menuju Posyandu Mandiri”.

Pelatihan Kesehatan

Penyuluhan Stop BAB Sembarangan

 

pelatihan kader penyuluh

Pelatihan Kader Kesehatan

 

2. Program Dokter Kecil (Dokcil)

Kegiatan ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah Menguri. Pelatihan diberikan oleh Tim Dokter PK-41. Diharapkan pembentukan dan pelatihan  dokcil dapat menumbuhkan kesadaran hidup sehat semenjak usia dini. Pada bulan April 2016 yang lalu, Tim Dokter Kecil SD Muhammadiyah Menguri mendapat amanah untuk mewakili Kabupaten Kulon Progo dalam Lomba Dokter Kecil tingkat Provinsi D I Yogyakarta (DIY). Dengan kerja keras dan semangat yang besar, mereka berhasil meraih juara ketiga. Wah, selamat ya. Tahun depan pasti bisa lebih baik. Semangat!! :)

IMG_2409

Tanya Jawab Dokter Kecil SD Muhammadiyah Menguri dan Tim Dokter PK-41

 

Salah satu sesi pelatihan

Salah Satu Sesi Praktik Kesehatan Gigi dan Mulut

 

Tim Dokcil SD Muhammadiyah Menguri dalam Lomba Dokter Kecil Tingkat Provinsi DIY

Tim Dokcil SD Muhammadiyah Menguri dalam Lomba Dokter Kecil Tingkat Provinsi DIY

3. Pengkajian Air Bersih

Pengkajian Air Bersih  bertujuan mendukung program pemberdayaan infrastruktur dan sebagai indikator kesehatan di Dukuh Sebatang.

Pengambilan Sampel Air

Pengambilan Sampel Air
 

Struktur Organisasi

struktur organisasi MI 41

Cara Membantu Kami

Donasi:

BCA No. 1663 201 780 (a.n. Ryska Sribina)

Volunteer:

Untuk melanjutkan program ini Tim MI PK-41 telah melakukan rekrutmen volunteer pada bulan Februari 2016. Mereka disebut Tim Aksi Peduli Sehat. Teman-teman volunteer akan membantu  pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) program Kader Kesehatan, Dokter Kecil dan Arisan Jamban. Ada 6 volunteer yang terpilih dari berbagai latar belakang keahlian seperti keperawatan, kedokteran, gizi kesehatan, dan fisipol. Semua volunteer diharapkan dapat bekerja sama agar memperlancar proses monev selama dua tahun kedepan. Keep fighting! :)

Suasana Tahap Interview Tim Aksi Peduli Sehat

Suasana Tahap Interview Tim Aksi Peduli Sehat

 

Tim Aksi Peduli Sehat MI PK-41

Volunteer yang Terpilih sebagai Tim Aksi Peduli Sehat MI PK-41

Hubungi Kami

Handphone:

Syafira Amadea   +61405321443 (Whatsapp available)

Syamsul  Qamar +62 852-5550-8021

Email Angkatan

menyapa41@gmail.com

Profil 

https://kitabisa.com/arisanjamban

(Kontributor: Syafira Amadea/ Editor: Prima Interpares)

 

Jual Gula Semut Nilas, Ampyang, dan Kacang Disco

Unknown-12

GULA SEMUT

kemasan 200gr :
eceran : @11.000
>10pcs :@9.000
>30pcs :@8.500
Harga plastik biasa
eceran : @10.000
>10 pcs :@ 8.000
>30 pcs :@ 7.500

Harga curah
eceran/kg : @40.000
>10kg :@35.000

 

GULA SEMUT JAHE
untuk kemasan 200gr yg berdiri :
eceran : @12.000
>10pcs :@10.000
>30pcs :@9.500

harga plastik biasa
eceran : @11.000
>10 pcs :@ 9.500
>30pcs : @9.000

Harga curah
eceran/kg : @45.000
>10kg :@40.000

Unknown-11

AMPYANG
eceran :@14.000
>10pcs : @12.000

KACANG DISCO
eceran :@ 15.000
>10pcs :@ 13.000

Pengiriman dri Jogja ya bisa hub Ayu :
+62 818-0239-3793

Sapa Sebatang

Tentang “Sapa Sebatang”

Menyapa Indonesia merupakan program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan desa terpencil yang dilakukan oleh para calon penerima (awardee) Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Saat ini program MI yang dimotori oleh awardee angkatan PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP 41, PK-42, PK-43, dan PK-44 dilaksanakan di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai salah satu dukuh yang tercatat memiliki 200 KK (Kepala Keluarga), Dukuh Sebatang dipilih sebagai lokasi penerapan program MI (Menyapa Indonesia) karena dianggap paling membutuhkan bantuan pengembangan masyarakat dibandingkan dukuh lain yang ada di sekitarnya.

Hasil survey lapangan tim MI gabungan memperlihatkan bahwa 166 dari 200 KK masih termasuk ke dalam kategori KK prasejahtera. Dalam Upaya membantu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Dukuh Sebatang, tim MI Gabungan PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 mencanangkan program pemberdayaan serta pengembangan Dukuh Sebatang yang berorientasi pada 4 bidang utama, yakni bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan budaya, serta infrastruktur.

Setiap angkatan PK bertanggungjawab pada satu bidang tertentu. PK-41 mengusung program kerja untuk bidang kesehatan, PK-42 melakukan pemberdayaan dalam bidang ekonomi, PK-43 berperan dalam bidang pendidikan dan budaya, serta PK-44 melakukan pengembangan dalam bidang infrastruktur.

Bidang Kesehatan

Dari segi kesehatan, Dukuh Sebatang memiliki beberapa permasalahan, di antaranya adalah terdapat beberapa masyarakat yang terjangkit penyakit degeneratif dan ISPA, minim dan kurang memadainya fasilitas mandi cuci kakus (MCK), sulitnya akses air bersih, kurangnya sarana pelayanan kesehatan, dan terdapat banyak rumah warga yang belum masuk kriteria rumah sehat.

Menurut Syamsul Qamar dan Syafira Amadea, Project Leader MI PK-41 Catureka Mandala, Dukuh Sebatang berada di daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang belum memadai sehingga warga sulit dalam mengakses fasilitas kesehatan.

Warga yang sakit dan ingin berobat, harus menunggu adanya puskesmas keliling yang hanya datang sebulan sekali ke Dukuh Sebatang. Di samping itu, mayoritas masyarakat setempat memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah sehingga perhatian dan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan penyakit masih kurang.

Untuk mengakomodasi kondisi-kondisi tersebut, Catureka Mandala akan mengembangkan tiga program kesehatan, yaitu pembentukan kader penyuluh kesehatan, arisan jamban, dan kajian air bersih.

Bidang Ekonomi

Mayoritas penduduk di Dukuh Sebatang berprofesi sebagai petani gula kelapa. Pada beberapa lokasi terdapat peternakan kambing dan kelinci, walau belum berkembang dengan baik.

Meski telah memiliki mata pencaharian utama, masyarakat Dukuh Sebatang masih tidak luput dari kondisi kesenjangan ekonomi. Kurangnya minat masyarakat untuk mengolah gula kelapa sebagai salah satu komoditas utama, kurangnya kemampuan masyarakat untuk beternak, kurangnya kemampuan masyarakat dalam memasarkan hasil tani, banyaknya tengkulak sehingga hasil jual rendah, merupakan beberapa faktor yang melatarbelakangi kesenjangan ekonomi tersebut.

Bondan Widyatmoko selaku Project Leader MI PK-42 Ancala Diwangkara menjelaskan bahwa terdapat dua program utama dalam pengembangan ekonomi Dukuh Sebatang yakni Branding Dukuh Sebatang sebagai Sentra Industri Olahan Nira dan Pelatihan Good Farming Practice (GFP) untuk Budidaya Kelinci.

Program industri olahan nira akan dimulai dengan mengadakan pelatihan diversifikasi produk olahan nira menjadi olahan lain seperti jahe gula aren dan ampyang aneka rasa sebagai upaya peningkatan nilai jual produk hingga ke tahap sertifikasi produk.

Sedangkan program budidaya kelinci akan dimulai dengan mengadakan pelatihan cara beternak yang baik. Kedua program ini mampu disinergikan melalui pemanfaatan limbah kotoran kelinci sebagai pupuk organik untuk perkebunan kelapa.

Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Project Leader MI PK-43 Jivakalpa, Isma Dwi Kurniawan mengatakan bahwa di Dukuh Sebatang tidak ada sekolah dasar. Jarak antara rumah dengan sekolah dasar menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan di Dukuh Sebatang. Sementara itu, dalam bidang kebudayaan dan kesenian, Dukuh Sebatang memiliki potensi karya-karya seni dalam bentuk Jathilan dan Karawitan yang butuh untuk terus dipelihara, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dalam upaya memfasilitasi pengembangan pendidikan dan kebudayaan, PK-43 Jikavalpa berorientasi pada program peningkatan kesadaran pentingnya pendidikan, pengadaan sarana prasarana, dan peningkatan kualitas SDM pendidik.

Melalui program kakak asuh, diharapkan motivasi belajar para pelajar di Dukuh Sebatang dapat meningkat. Selain itu, PK-43 Jivakalpa juga akan melakukan perbaikan infrastruktur PAUD, mengadakan training of trainers (ToT) bagi tenaga pendidik, dan menambah buku bacaan di Rumah Pintar yang sudah tersedia di Dukuh Sebatang. Selanjutnya, untuk mendukung perkembangan kebudayaan, PK-43 Jivakalpa akan melaksanakan beberapa kegiatan seperti manajemen organisasi seni dan kaderisasi dengan tujuan menjadikan Dukuh Sebatang sebagai kampung kesenian.

Bidang Infrastruktur

Perbedaan elevasi pada profil tanah yang besar serta jarak Dukuh Sebatang yang jauh dari pusat kota Kulonprogo menyebabkan terhambatnya perkembangan infrastruktur transportasi, air, dan listrik. Jalan desa yang dibangun dari bahan dasar semen (konblok) pada musim hujan menjadi sangat licin karena lumut dan pasir.

Project Leader PK-44, Cholila Tamzyi mengatakan bahwa kondisi jalan kabupaten yang cukup parah dan naik turun juga menyebabkan sulitnya akses kendaraan roda 4 pembawa material bangunan ataupun ambulan emergency jika ada warga yang sakit. Di samping itu, akses air Dukuh Sebatang wilayah atas dan dengan sangat terbatas.

Dalam upaya pembenahan kondisi tersebut, PK-44 Sthana Citraloka akan melakukan berbagai program, antara lain program infrastruktur air, program infrastruktur jalan, dan program infrastruktur listrik.

Adapun upaya untuk mewujudkan penyediaan air bagi warga masyarakat Dukuh Sebatang dilakukan melalui berbagai program meliputi: advokasi peroyek pengembangan jalur PDAM, konservasi mata air, dan pengujian kualitas air. Sementara pada program infrastruktur jalan akan dilakukan bantuan advokasi proposal pembangunan jalan. Selanjutnya pada program infrastruktur listrik akan diupaakan penggunaan solar cell.

Keseluruhan program MI oleh PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, akan dikemas dalam satu proyek yang dinamakan ”Sapa Sebatang”, dan akan dimulai pada bulan Agustus 2015.

Program Sapa Sebatang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat Dukuh Sebatang yang berperilaku sehat dan berdikari menciptakan lingkungan sehat, mandiri dan kreatif dalam bidang ekonomi, serta maju dalam bidang pendidikan, seni dan budaya. Selain itu, melalui pembangunan infrastruktur yang memadai, diharapkan dapat mendorong masyarakat Dukuh Sebatang untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di wilayah mereka.

dukuh sebatang copy

“Menyapa Indonesia” Menyapa Dukuh Sebatang

Aksi Menyapa Indonesia (MI) yang digelar para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, akan menjangkau berbagai daerah tertinggal di Indonesia. Salah satu daerah yang kini menjadi sasaran aksi Menyapa Indonesia adala Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogra, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di tempat ini, pelaksanaan aksi Menyapa Indonesia melibatkan empat kelompok, yakni kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke-41, hingga PK-44. Di Dukuh Sebatang, Masing-masing kelompok ini memiliki bidang yang berbeda-beda dalam menjalankan aksi mereka.

PK-41 (Catureka Mandala)

Catureka MandalaCatureka Mandala merupakan kumpulan putra putri terbaik bangsa yang mendapat kepercayaan menjadi calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Kelompok ini tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan Angkatan 41 (PK-41) yang diketuai oleh Oktiani Putri.

Catureka Mandala yang bermakna Kesatuan 41, tidak hanya menjadi representasi identitas kolektif. Lebih lebih dari itu. Nama ini merupakan manifestasi cita dari seluruh anggota PK-41 untuk bersatu, bersama dalam semangat cinta dan harmoni, menjadi insan unggul yang mampu membangun negeri menuju Indonesia Emas 2045.

PK-41 beranggotakan 130 calon awardee yang terdiri dari 107 calon magister, 17 orang calon doktor, serta enam orang calon doktor spesialis. Mereka semua akan melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sebanyak 130 orang ini terbagi dalam enam kelompok yang dinamai pulau-pulau terluar Indonesia, yaitu: Pulau Sibarubaru, Pulau Maratua, Pulau Nusa Barung, Pulau Wetar, Pulau Kakarutan, dan Pulau Fanildo. Penamaan kelompok tersebut sekaligus menjadi pesan dan ajakan dari dari PK-41 kepada seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga dan memelihara keutuhan wilayan NKRI.

Sebagai bentuk pengabdian kepada negeri, Catureka Mandala (PK-41) beserta PK-42, PK-43, dan PK-44 sedang melakukan aksi pemberdayaan masyarakat (community development) bertajuk ‘Menyapa Indonesia’ di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bidang kesehatan menjadi fokus pemberdayaan Catureka Mandala di desa tersebut. Tiga program prioritas yang akan dilakukan adalah: Kader Penyuluhan Kesehatan, Arisan Jamban, dan Akses Layanan Air Bersih.

Semua program tersebut bermuara pada satu tujuan yaitu peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Dukuh Sebatang yang berkelanjutan.

PK-42 (Ancala Diwangkara)

PK-42Ancala Diwangkara diketuai oleh Mouliza Kristhopher Donna S. Secara harfiah Ancala berarti gunung danDiwangkara berarti menerangi/penerang. Gunung dapat pula disebut sebagai pasak bumi yang menjaga keseimbangan, tempat tumbuh dan berkembangnya beragam spesies dan masyarakat. Sedangkan setiap gunung, pasti memiliki puncak sebagaimana seorang pemimpin yang memiliki visi untuk kehidupan yang lebih baik.

PK-42 adalah sekumpulan pemimpin yang dapat turut serta menyeimbangkan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi bangsa, dan menjadi penggagas asa bangsa. Dengan karakteristik tersebut, anggota PK-42 diharapkan dapat menjadi penerang bagi masa depan bangsa Indonesia.

Ancala Diwangkara beranggotakan 123 orang yang terbagi dalam 6 kelompok. Setiap kelompok memiliki nama puncak gunung yang ada di Indonesia; Mahameru, Cartenzs, Indrapura, Rantemario, Rinjani, dan Bukit Raya.

Ancala Diwangkara turut serta memotori program ‘Menyapa Indonesia’ di Dukuh Sebatang, dan akan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam hal pengelolaan potensi ekonomi, yaitu melalui program branding nira dan budidaya kelinci. Harapan ke depan, program Menyapa Indonesia ini mampu membentuk generasi penerus yang mandiri dalam bidang wirausaha.

PK-43 (Jivakalpa)

PK 43 JivakalpaJivakalpa yang berasal dari bahasa sansekerta, yakni Jiva (jiwa) yang berarti benih kehidupan dan Kalpataru yang merupakan pohon pengharapan dan mencerminkan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan seimbang, yang diidamkan karena melambangkan hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup. Karena itu, nama Jivakalpa sendiri merepresentasikan visi PK-43 untuk mewujudkan harapan masyarakat akan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan diidamkan.

“Jivakalpa” yang diketuai Ihsan Ahmad Zulkarnain, terdiri dari 122 calon-calon magister dan doktoral yang berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Kelompok ini terbagi lagi menjadi enam kelompok yang masing-masing dinamai dengan nama-nama bertema diversifikasi pangan, yaitu : Papeda, Gadong, Songkolo, Bagadang, Dadiah, Thiwul, dan Eloi.

Tema diversifikasi pangan ini digunakan dengan maksud memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal 16 Oktober yang juga bertepatan dengan waktu pelaksanaannya PK -43 LPDP di wisma Hijau Depok.

Penyelenggaraan HPS di Indonesia menjadi momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan para stakeholder terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Program spesifik yang dibidangi oleh PK-43 dalam pelaksanaan Menyapa Indonesia di Dukuh Sebatang ialah pendidikan dan kebudayaan. Dalam bidang pendidikan, PK-43 berfokus pada pelatihan tenaga pendidik, kakak adik asuh, perbaikan kualitas PAUD, dan perbaikan kualitas Rumah Pintar. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, PK-43 berfokus pada Sebatang Heritage Festival, video framing, showcase, interaksi, kaderisasi, dan manajemen organisasi seni.

PK-44 (Sthana Citraloka)

logo pk44Sthana Citraloka merupakan nama Persiapan Keberangkatan angkatan 44 (PK-44) yang diketuai oleh Devian Stevano.

Sthana Citraloka berarti tempat yang memiliki catatan sejarah dunia. Nama ini mengingatkan kita kepada tempat-tempat wisata sejarah yang memiliki nilai budaya, kepribadian dan karakter bangsa Indonesia serta menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan pendahulu.

Sthana Citraloka memuat harapan para peserta PK-44 agar lebih mengetahui dan melestarikan tempat-tempat bersejarah di Indonesia, sehingga dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Jumlah peserta PK-44 adalah 120 orang yang terdiri dari 97 orang calon magister, 19 orang calon doktor, dan empat orang calon doktor spesialis, yang akan menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada PK-44 terdapat 6 kelompok dengan penamaan bertemakan tempat bersejarah, yaitu: Benteng Vredeburg, Taman Sari, Lawang Sewu, Fort Rotterdam, Jam Gadang, dan Gedung Sate.

Para peserta PK-44 akan berkontribusi pula pada program ‘Menyapa Indonesia’ yang merupakan program pengembangan masyarakat yang dikelola oleh para calon penerima anugerah BPI-LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Bidang Infrastruktur menjadi fokus kontribusi yang dilakukan PK-44 khususnya dalam pengembangan infrastruktur air, jalan, dan listrik.

Banu Bangsa Logo

Banu Bangsa Bangun Saluran Air Bersih

Jakarta. Juli 2015 – Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) – LPDP yang tergabung dalam kelompok bernama Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten yaitu membangun saluran air bersih dan mandi, cuci & kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI- LPDP juga selaku ketua kelompok Banu Bangsa menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami”, ujar Galuh.

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.
Disamping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, kedepannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tambah Galuh

tautan : http://www.hijauku.com/2015/07/22/banu-bangsa-bangun-saluran-air-bersih/

Continue reading

GM3

Dari Gema Mahardika untuk Desa Ramea

Sebagai perwujudan dari proyek pengembangan masyarakat (community development), kami para pemuda dan pemudi bangsa Indonesia yang terpilih sebagai para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang disatukan dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke 39–yang bernama Gema Mahardika– ingin memberi kontribusi nyata untuk membangun desa. Salah satunya adalah kami bergabung bersama tim “Menyapa Indonesia” untuk membantu salah satu desa terpencil di provinsi Banten, Desa Ramea.

Desa Ramea berada di Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Desa ini Terdiri atas 29 kampung (RT) dengan total 3.762 penduduk.

Untuk mencapai desa ini dari Jakarta, dibutuhkan waktu tempuh sekitar 4 Jam perjalanan. Lamanya waktu temput disebabkan oleh akses jalan menuju desa ini rusak berat, karenanya membutuhkan perbaikan agar dapat dilalui kendaraan.

Dari ujung jalan beraspal, tepatnya setelah melewati kantor kecamatan Mandalawangi, diperlukan waktu tempuh kurang lebih 2 Jam untuk sampai ke Desa Ramea, padahal jarak dari kantor kecamatan ini ke desa tersebut kurang lebih hanya 3 Km. Oleh karena sulitnya akses jalan menyebabkan desa ini tertinggal, padahal secara lokasi jarak desa ini ke Kota Serang sekitar 40 Km.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gambar 1 : Kondisi Jalan ke Desa Ramea

Sebagian besar penduduk Desa Ramea masih tergolong dalam keluarga prasejahtera. Desa ini memiliki 3 fasilitas pendidikan tingkat dasar, yaitu sebuah SD Negeri dan 2 buah Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat sekolah dasar.

Hanya 2 buah sekolah dasar (1 SDN dan 1 MI – Darul Huda) yang terletak di pusat desa dan cukup terjangkau oleh masyarakat desa. Untuk pendidikan tingkat lanjutan, Desa ini memiliki sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) namun kelasnya masih berbagi dengan MI Darul Huda (kelas pagi untuk MI, petang untuk SLTP). 

Belum ada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Desa Ramea. Maka, anak didik yang mau melanjutkan ke SLTA/Kejuruan harus menempuh perjalanan atau pindah keluar desa. Mahalnya ongkos transportasi menempuh jalan yang rusak juga menjadi kendala bagi penduduk desa Ramea untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi disamping terbatasnya akses pada sistem penunjang pendidikan seperti buku-buku.

tmp1
Gambar 2 : Suasana Sekolah di Desa Ramea

 

Semua fasilitas pendidikan ini disediakan gratis. Namun, sekolah hanya meminjamkan fasilitas pendidikan untuk digunakan terbatas dalam lingkungan sekolah. Terdapat koleksi buku-buku (mayoritas berkaitan dengan materi pendidikan) yang disimpan di ruang guru/kepala sekolah. Namun begitu, buku-buku tersebut terbatas digunakan di tempat. Menurut salah satu kepala sekolah dasar di Desa Ramea, perpustakaan keliling pun tidak dapat menjadi harapan karena tidak secara rutin tersedia.

Sebagian besar masyarakat Desa Ramea (60.2%) hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat sekolah dasar (data statistik, BPS) dan hanya 0.3% yang berpendidikan sarjana.

Semangat menempuh pendidikan yang lebih tinggi (SLTP) terus meningkat di kalangan pemuda. Di salah satu sekolah dasar, hampir seluruh peserta didik yang menyelesaikan pendidikan dasar melanjutkan ke tingkat SLTP. Hal ini patut didukung dan ditingkatkan dengan menyediakan akses sebesar-besarnya bagi fasilitas pendidikan seperti Rumah Baca dan atau Perpustakaan.

Continue reading

FIX (1)

Kemilau Nusantara Bercerita: Desa Ramea

Kemilau Nusantara adalah anak-anak bangsa yang memiliki cita-cita memberikan sumbangsih membangun bangsa. Kami adalah penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) angkatan Persiapan Keberangkatan (PK) ke 40. Salah satu bentuk konkrit kami dalam memberikan sumbangsih membangun bangsa adalah dengan berkontribusi dalam proyek besar pengembangan masyarakat, Menyapa Indonesia.

Kita mengenal dengan sebutan 3T untuk wilayah-wilayah yang dikategorikan sebagai wilayah Terluar, Terpencil, dan Tertinggal. Pengalaman kami dalam survey kedua ke Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, membuat kami menyadari bahwa Desa ini memang tidak termasuk dalam golongan 3T, namun malah seperti membuat golongan sendiri. Yakni golongan 6T: Tidak Terluar, Tidak Terpencil, Tapi Tertinggal.

Ironis, jaraknya tidak sampai 120 km dari pusat provinsi Banten yang memiliki banyak mal, pusat perbelanjaan modern dimana kelas menengah keatas menghabiskan waktu dan uangnya. Kondisi desa Ramea dan hingar bingarnya pusat provinsi Banten, mencerminkan betapa kesenjangan di masyarakat tidak mengenal jarak geografis.

Salah satu anak di Desa Ramea
Gambar 1.  Anak Desa Ramea

Untuk menjangkau Desa Ramea, khususnya Kampung Turalak, dibutuhkan waktu hampir dua jam dari ujung jalan beraspal. Padahal, jaraknya kurang lebih hanya 3 km. Dapat dibayangkan bagaimana medan yang harus dilalui sehingga waktu tempuh yang dibutuhkan mencapai hampir dua jam.

Sebagian besar penduduk Desa Rame masih tergolong dalam keluarga prasejahtera.  Di desa yang dihuni sekitar 85 keluarga ini 60 persen warganya mengenyam pendidikan hanya sampai di bangku Sekolah Dasar. Hanya 0.3 persen dari mereka yang dapat melanjutkan sekolah hingga tingkat sarjana.

Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya Ramea memiliki banyak potensi terutama di bidang pertanian. Hanya saja pengelolaan dan pemanfaatan potensi yang sudah ada belum maksimal karena sistem yang dikembangkan di desa tersebut masih konvensional.Continue reading

Banu Bangsa Logo

Banu Bangsa Kunjungi desa Ramea

Mengawali sebuah proyek besar pengembangan masyarakat (community development), anak-anak muda penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam kelompok PK-38 “Banu Bangsa” berkunjung ke Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Kamis, 25 Juni 2015 silam.

Kunjungan ini sekaligus merupakan survey awal guna memetakan secara langsung potensi, permasalahan, dan alternatif solusi yang Banu Bangsa bisa berikan melalui program Menyapa Indonesia.

Tim survey Banu Bangsa yang berangkat ke Desa Ramea dipimpin Wildan Ahmad Adani sebagai koordinator survey, bersama 10 orang lainnya dari kelompok pra-PK 38 Banu Bangsa. Bersama dengan mereka, turut pula tiga anggota kelompok pra-PK 39.

Kunjungan ini sangat penting, terutama karena Banu Bangsa yang terdiri dari generasi muda dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian harus bisa mensinergikan pengetahuan dan kemampuan mereka satu sama lain dengan warga Desa Ramea yang tentu memiliki adat istiadat, kekhasan, dan kearifan lokalnya sendiri. Melalui survey ini, Banu Bangsa ingin mengetahui kondisi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan sanitasi masyarakat Desa Ramea.

Hasil survey menunjukkan, sebanyak 64 persen warga Desa Ramea menyandarkan hidupnya pada bidang pertanian. Masalah muncul ketika musim kemarau tiba. Ketiadaan embung penampungan air menyebabkan hasil panen menurun. Belum banyak juga potensi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dikembangkan dari pengolahan hasil pertanian ini. Kondisi ini menyebabkan banyak warga  menganggur dan tidak produktif.

Kualitas pendidikan di Desa Ramea juga masih di bawah rata-rata. Selain ketersediaan fasilitas pendidikan dasar SMP dan SMA yang masih sangat minim, kendala jarak dan infrastruktur jalan yang buruk semakin memperlambat laju pendidikan di Desa Ramea.

Dalam hal kesehatan, Desa Ramea belum tersentuh akses pelayanan kesehatan yang memadai. Ketersediaan Poskesdes sangat diandalkan warga desa, karena letak Puskesmas sangat jauh dari Desa Ramea. Melalui pengamatan langsung, kami melihat bahwa sanitasi di Desa Ramea masih kurang mendapatkan perhatian. Sarana MCK yang masih sangat minim dan tingkat kesadaran warga terhadap kebersihan yang masih rendah menjadikan masalah kesehatan salah satu fokus masalah yang Banu Bangsa ingin selesaikan di Desa Ramea.

Berbekal hasil survey yang telah dilakukan di Desa Ramea, Banu Bangsa akhirnya merancang sebuah grand design  dengan melibatkan para penerima BPI LPDP yang berkontribusi dengan keahliannya masing-masing. Pengembangan masyarakat Desa Ramea ini tentu saja membutuhkan banyak tangan yang terulur agar cita-cita gerakan Menyapa Indonesia terwujud di Desa Ramea, Pendeglang, Banten.

Survei

Sanitasi untuk Ramea

Berkeliling Desa Ramea di tengah panas matahari merupakan hal yang sungguh melelahkan bagi kami. Kami yang tergabung dalam BanuBangsa memiliki misi awal untuk mensurvey kebutuhan dasar warga Ramea yang belum terpenuhi. Kami berusaha mencari akar permasalahan dari taraf hidup masyarakat Ramea yang rendah. Namun yang kami temukan bukan hanya isu sosial ekonomi, namun juga  kesehatan. Terhitung hanya 7 persen dari keluarga di Desa Ramea yang memiliki MCK pribadi. Sisanya, sebanyak 93 persen melakukan aktivitas MCK di sungai maupun di kebun.

Kebiasaan melakukan aktivitas MCK di Sungai dan kebun adalah seakan sudah menjadi budaya di Desa Ramea. Tetapi mereka tidak kuasa melakukan perubahan, minimal membangun MCK pribadi, karena kondisi perekonomian yang tidak mendukung.

Masyarakat yang merasa tidak mampu membangun MCK pribadi ini, kemudian merasa belum membutuhkan MCK pribadi. Selama masih ada Sungai dan kebun-kebun yang terhampar luas, maka masyarakat akan masih merasa nyaman dan tenang hidup tanpa MCK pribadi. Padahal hal tersebut tentu sangat merugikan untuk jangka waktu yang panjang.

desa ramea 1
Gambar 1.4: Kondisi Ramea

Anak-anak Desa Ramea tidak pernah belajar secara informal, atau belajar dari keluarga dan masyarakat bahwa kegiatan MCK di sungai akan mengganggu kesehatan dan dapat merusak alam. Apabila hal ini diteruskan, maka generasi Indonesia tidak akan tumbuh dengan sehat, kuat dan cerdas.

Masyarakat tentu perlu diperkenalkan pada penggunaan MCK pribadi atau MCK umum, atau setidaknya diberi pemahaman mengenai bahaya dan resiko melakukan aktivitas MCK tidak pada tempatnya. Namun sosialisasi tersebut akan sia-sia apabila dilakukan tidak secara berkesinambungan.

Kami merasa bahwa untuk mensukseskan proyek community development ini, butuh sosialisasi dalam bentuk nyata, maka dari itu kami memutuskan untuk membangun MCK umum. Hal ini dilakukan karena masyarakat perlu diperkenalkan dan dibiasakan menggunakan fasilitas MCK tidak hanya instruksi untuk tidak lagi melakukan kegiatan MCK di sungai atau kebun.

Penyuluhan juga butuh dilakukan terutama kepada anak-anak Desa Ramea, pengetahuan bahaya kesehatan yang bisa ditimbulkan dengan melakukan kegiatan MCK di Sungai perlu disosialisasikan sehingga anak-anak aware mengenai hal tersebut.

Kami berharap dengan proyek pengembangan masyarakat ini, tingkat kesehatan masyarakat Desa Ramea bisa meningkat. Karena akses terhadap kesehatan, sanitasi dan air bersih merupakan hak setiap warga, tidak terbatas seberapa jauh mereka hidup dari keramaian perkotaan, tidak terbatas siapa mereka dan apa pekerjaan mereka. Apabila mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk mencapai kehidupan yang lebih layak, maka kita lah yang seharusnya mengulurkan tangan, demi Indonesia kita yang lebih sejahtera.

dukung

Dinas Karya Cipta Banten Dukung Program “Menyapa Indonesia”

Program Menyapa Indonesia di Desa Cikumbueun, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, akan diawali dengan perbaikan infrastruktur jalan sebagai sasaran utama. Progam tersebut diagendakan akan dimulai setelah acara seremonial peletakan batu pertama pada 26 Juli 2015 mendatang.

Sejauh ini, aksi sosial untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Cikumbueun tersebut telah mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak, khususnya dari pemerintahan desa setempat dan dinas terkait di Kabupaten Banten, yakni Dinas Cipta Karya Penataan Ruang dan Kebersihan Kabupaten Banten. Secara lisan, dinas ini telah menyatakan kesiapannya untuk membantu tim teknis di lapangan serta bersedia memberikan masukan-masukan yang bermanfaat demi keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut.Continue reading