Banu Bangsa Logo

Banu Bangsa Bangun Saluran Air Bersih

Jakarta. Juli 2015 – Sebanyak 128 penerima beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) – LPDP yang tergabung dalam kelompok bernama Banu Bangsa akan menggelar tiga kegiatan pengembangan masyarakat bertajuk Menyapa Indonesia di Desa Ramea, Provinsi Banten yaitu membangun saluran air bersih dan mandi, cuci & kakus (MCK), penyuluhan perilaku hidup sehat serta pemberian beasiswa kebidanan.

Galuh Ainur Rohmah, salah satu penerima beasiswa BPI- LPDP juga selaku ketua kelompok Banu Bangsa menyatakan berdasarkan survei yang telah dilakukan, Desa Ramea dengan total penghuni sebanyak 900 kepala keluarga, hanya memiliki 1 MCK umum yaitu di RW 004 yang pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Banten. Selain itu hanya 7% rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing, sedangkan sebagian besar lainnya melakukan MCK di sungai, bawah pohon, dan empang. Pembangunan sarana ini dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dimulai dari aspek sanitasi. Pembangunan saluran air bersih dan MCK umum akan dilaksanakan pada awal Agustus dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus tahun ini. Adapun teknis pelaksanaannya akan melibatkan partisipasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) desa Ramea dengan bantuan koordinasi dan dana dari pihak kami”, ujar Galuh.

Pembangunan saluran air bersih dan MCK ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar kurang lebih 152 juta rupiah, dimana dananya diperoleh dari kegiatan penggalangan dana melalui sponsorship dan crowdfunding. Peresmian fasilitas MCK umum di Desa Ramea akan dihadiri oleh pemerintah setempat dan perwakilan dari pihak LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia akhir Agustus mendatang.
Disamping pembangunan saluran air bersih dan MCK umum, kegiatan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan untuk membantu warga desa menerapkan pola hidup higienis dan sehat. Untuk mendukung keberlanjutan program peningkatan kesehatan, akan dibentuk juga kader-kader kesehatan yang dibina secara berkelanjutan.

“Selanjutnya, kami juga akan memberikan beasiswa kebidanan bagi 2 pemuda unggulan dari Desa Ramea untuk melanjutkan pendidikan kebidanan. Melalui beasiswa ini, kedepannya kami berharap penerima beasiswa juga akan menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat di Desa Ramea,” tambah Galuh

tautan : http://www.hijauku.com/2015/07/22/banu-bangsa-bangun-saluran-air-bersih/

Continue reading

GM3

Dari Gema Mahardika untuk Desa Ramea

Sebagai perwujudan dari proyek pengembangan masyarakat (community development), kami para pemuda dan pemudi bangsa Indonesia yang terpilih sebagai para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang disatukan dalam kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke 39–yang bernama Gema Mahardika– ingin memberi kontribusi nyata untuk membangun desa. Salah satunya adalah kami bergabung bersama tim “Menyapa Indonesia” untuk membantu salah satu desa terpencil di provinsi Banten, Desa Ramea.

Desa Ramea berada di Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Desa ini Terdiri atas 29 kampung (RT) dengan total 3.762 penduduk.

Untuk mencapai desa ini dari Jakarta, dibutuhkan waktu tempuh sekitar 4 Jam perjalanan. Lamanya waktu temput disebabkan oleh akses jalan menuju desa ini rusak berat, karenanya membutuhkan perbaikan agar dapat dilalui kendaraan.

Dari ujung jalan beraspal, tepatnya setelah melewati kantor kecamatan Mandalawangi, diperlukan waktu tempuh kurang lebih 2 Jam untuk sampai ke Desa Ramea, padahal jarak dari kantor kecamatan ini ke desa tersebut kurang lebih hanya 3 Km. Oleh karena sulitnya akses jalan menyebabkan desa ini tertinggal, padahal secara lokasi jarak desa ini ke Kota Serang sekitar 40 Km.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gambar 1 : Kondisi Jalan ke Desa Ramea

Sebagian besar penduduk Desa Ramea masih tergolong dalam keluarga prasejahtera. Desa ini memiliki 3 fasilitas pendidikan tingkat dasar, yaitu sebuah SD Negeri dan 2 buah Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat sekolah dasar.

Hanya 2 buah sekolah dasar (1 SDN dan 1 MI – Darul Huda) yang terletak di pusat desa dan cukup terjangkau oleh masyarakat desa. Untuk pendidikan tingkat lanjutan, Desa ini memiliki sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) namun kelasnya masih berbagi dengan MI Darul Huda (kelas pagi untuk MI, petang untuk SLTP). 

Belum ada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Desa Ramea. Maka, anak didik yang mau melanjutkan ke SLTA/Kejuruan harus menempuh perjalanan atau pindah keluar desa. Mahalnya ongkos transportasi menempuh jalan yang rusak juga menjadi kendala bagi penduduk desa Ramea untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi disamping terbatasnya akses pada sistem penunjang pendidikan seperti buku-buku.

tmp1
Gambar 2 : Suasana Sekolah di Desa Ramea

 

Semua fasilitas pendidikan ini disediakan gratis. Namun, sekolah hanya meminjamkan fasilitas pendidikan untuk digunakan terbatas dalam lingkungan sekolah. Terdapat koleksi buku-buku (mayoritas berkaitan dengan materi pendidikan) yang disimpan di ruang guru/kepala sekolah. Namun begitu, buku-buku tersebut terbatas digunakan di tempat. Menurut salah satu kepala sekolah dasar di Desa Ramea, perpustakaan keliling pun tidak dapat menjadi harapan karena tidak secara rutin tersedia.

Sebagian besar masyarakat Desa Ramea (60.2%) hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat sekolah dasar (data statistik, BPS) dan hanya 0.3% yang berpendidikan sarjana.

Semangat menempuh pendidikan yang lebih tinggi (SLTP) terus meningkat di kalangan pemuda. Di salah satu sekolah dasar, hampir seluruh peserta didik yang menyelesaikan pendidikan dasar melanjutkan ke tingkat SLTP. Hal ini patut didukung dan ditingkatkan dengan menyediakan akses sebesar-besarnya bagi fasilitas pendidikan seperti Rumah Baca dan atau Perpustakaan.

Continue reading

FIX (1)

Kemilau Nusantara Bercerita: Desa Ramea

Kemilau Nusantara adalah anak-anak bangsa yang memiliki cita-cita memberikan sumbangsih membangun bangsa. Kami adalah penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) angkatan Persiapan Keberangkatan (PK) ke 40. Salah satu bentuk konkrit kami dalam memberikan sumbangsih membangun bangsa adalah dengan berkontribusi dalam proyek besar pengembangan masyarakat, Menyapa Indonesia.

Kita mengenal dengan sebutan 3T untuk wilayah-wilayah yang dikategorikan sebagai wilayah Terluar, Terpencil, dan Tertinggal. Pengalaman kami dalam survey kedua ke Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, membuat kami menyadari bahwa Desa ini memang tidak termasuk dalam golongan 3T, namun malah seperti membuat golongan sendiri. Yakni golongan 6T: Tidak Terluar, Tidak Terpencil, Tapi Tertinggal.

Ironis, jaraknya tidak sampai 120 km dari pusat provinsi Banten yang memiliki banyak mal, pusat perbelanjaan modern dimana kelas menengah keatas menghabiskan waktu dan uangnya. Kondisi desa Ramea dan hingar bingarnya pusat provinsi Banten, mencerminkan betapa kesenjangan di masyarakat tidak mengenal jarak geografis.

Salah satu anak di Desa Ramea
Gambar 1.  Anak Desa Ramea

Untuk menjangkau Desa Ramea, khususnya Kampung Turalak, dibutuhkan waktu hampir dua jam dari ujung jalan beraspal. Padahal, jaraknya kurang lebih hanya 3 km. Dapat dibayangkan bagaimana medan yang harus dilalui sehingga waktu tempuh yang dibutuhkan mencapai hampir dua jam.

Sebagian besar penduduk Desa Rame masih tergolong dalam keluarga prasejahtera.  Di desa yang dihuni sekitar 85 keluarga ini 60 persen warganya mengenyam pendidikan hanya sampai di bangku Sekolah Dasar. Hanya 0.3 persen dari mereka yang dapat melanjutkan sekolah hingga tingkat sarjana.

Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya Ramea memiliki banyak potensi terutama di bidang pertanian. Hanya saja pengelolaan dan pemanfaatan potensi yang sudah ada belum maksimal karena sistem yang dikembangkan di desa tersebut masih konvensional.Continue reading

Banu Bangsa Logo

Banu Bangsa Kunjungi desa Ramea

Mengawali sebuah proyek besar pengembangan masyarakat (community development), anak-anak muda penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam kelompok PK-38 “Banu Bangsa” berkunjung ke Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Kamis, 25 Juni 2015 silam.

Kunjungan ini sekaligus merupakan survey awal guna memetakan secara langsung potensi, permasalahan, dan alternatif solusi yang Banu Bangsa bisa berikan melalui program Menyapa Indonesia.

Tim survey Banu Bangsa yang berangkat ke Desa Ramea dipimpin Wildan Ahmad Adani sebagai koordinator survey, bersama 10 orang lainnya dari kelompok pra-PK 38 Banu Bangsa. Bersama dengan mereka, turut pula tiga anggota kelompok pra-PK 39.

Kunjungan ini sangat penting, terutama karena Banu Bangsa yang terdiri dari generasi muda dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian harus bisa mensinergikan pengetahuan dan kemampuan mereka satu sama lain dengan warga Desa Ramea yang tentu memiliki adat istiadat, kekhasan, dan kearifan lokalnya sendiri. Melalui survey ini, Banu Bangsa ingin mengetahui kondisi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan sanitasi masyarakat Desa Ramea.

Hasil survey menunjukkan, sebanyak 64 persen warga Desa Ramea menyandarkan hidupnya pada bidang pertanian. Masalah muncul ketika musim kemarau tiba. Ketiadaan embung penampungan air menyebabkan hasil panen menurun. Belum banyak juga potensi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dikembangkan dari pengolahan hasil pertanian ini. Kondisi ini menyebabkan banyak warga  menganggur dan tidak produktif.

Kualitas pendidikan di Desa Ramea juga masih di bawah rata-rata. Selain ketersediaan fasilitas pendidikan dasar SMP dan SMA yang masih sangat minim, kendala jarak dan infrastruktur jalan yang buruk semakin memperlambat laju pendidikan di Desa Ramea.

Dalam hal kesehatan, Desa Ramea belum tersentuh akses pelayanan kesehatan yang memadai. Ketersediaan Poskesdes sangat diandalkan warga desa, karena letak Puskesmas sangat jauh dari Desa Ramea. Melalui pengamatan langsung, kami melihat bahwa sanitasi di Desa Ramea masih kurang mendapatkan perhatian. Sarana MCK yang masih sangat minim dan tingkat kesadaran warga terhadap kebersihan yang masih rendah menjadikan masalah kesehatan salah satu fokus masalah yang Banu Bangsa ingin selesaikan di Desa Ramea.

Berbekal hasil survey yang telah dilakukan di Desa Ramea, Banu Bangsa akhirnya merancang sebuah grand design  dengan melibatkan para penerima BPI LPDP yang berkontribusi dengan keahliannya masing-masing. Pengembangan masyarakat Desa Ramea ini tentu saja membutuhkan banyak tangan yang terulur agar cita-cita gerakan Menyapa Indonesia terwujud di Desa Ramea, Pendeglang, Banten.

Survei

Sanitasi untuk Ramea

Berkeliling Desa Ramea di tengah panas matahari merupakan hal yang sungguh melelahkan bagi kami. Kami yang tergabung dalam BanuBangsa memiliki misi awal untuk mensurvey kebutuhan dasar warga Ramea yang belum terpenuhi. Kami berusaha mencari akar permasalahan dari taraf hidup masyarakat Ramea yang rendah. Namun yang kami temukan bukan hanya isu sosial ekonomi, namun juga  kesehatan. Terhitung hanya 7 persen dari keluarga di Desa Ramea yang memiliki MCK pribadi. Sisanya, sebanyak 93 persen melakukan aktivitas MCK di sungai maupun di kebun.

Kebiasaan melakukan aktivitas MCK di Sungai dan kebun adalah seakan sudah menjadi budaya di Desa Ramea. Tetapi mereka tidak kuasa melakukan perubahan, minimal membangun MCK pribadi, karena kondisi perekonomian yang tidak mendukung.

Masyarakat yang merasa tidak mampu membangun MCK pribadi ini, kemudian merasa belum membutuhkan MCK pribadi. Selama masih ada Sungai dan kebun-kebun yang terhampar luas, maka masyarakat akan masih merasa nyaman dan tenang hidup tanpa MCK pribadi. Padahal hal tersebut tentu sangat merugikan untuk jangka waktu yang panjang.

desa ramea 1
Gambar 1.4: Kondisi Ramea

Anak-anak Desa Ramea tidak pernah belajar secara informal, atau belajar dari keluarga dan masyarakat bahwa kegiatan MCK di sungai akan mengganggu kesehatan dan dapat merusak alam. Apabila hal ini diteruskan, maka generasi Indonesia tidak akan tumbuh dengan sehat, kuat dan cerdas.

Masyarakat tentu perlu diperkenalkan pada penggunaan MCK pribadi atau MCK umum, atau setidaknya diberi pemahaman mengenai bahaya dan resiko melakukan aktivitas MCK tidak pada tempatnya. Namun sosialisasi tersebut akan sia-sia apabila dilakukan tidak secara berkesinambungan.

Kami merasa bahwa untuk mensukseskan proyek community development ini, butuh sosialisasi dalam bentuk nyata, maka dari itu kami memutuskan untuk membangun MCK umum. Hal ini dilakukan karena masyarakat perlu diperkenalkan dan dibiasakan menggunakan fasilitas MCK tidak hanya instruksi untuk tidak lagi melakukan kegiatan MCK di sungai atau kebun.

Penyuluhan juga butuh dilakukan terutama kepada anak-anak Desa Ramea, pengetahuan bahaya kesehatan yang bisa ditimbulkan dengan melakukan kegiatan MCK di Sungai perlu disosialisasikan sehingga anak-anak aware mengenai hal tersebut.

Kami berharap dengan proyek pengembangan masyarakat ini, tingkat kesehatan masyarakat Desa Ramea bisa meningkat. Karena akses terhadap kesehatan, sanitasi dan air bersih merupakan hak setiap warga, tidak terbatas seberapa jauh mereka hidup dari keramaian perkotaan, tidak terbatas siapa mereka dan apa pekerjaan mereka. Apabila mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk mencapai kehidupan yang lebih layak, maka kita lah yang seharusnya mengulurkan tangan, demi Indonesia kita yang lebih sejahtera.