Tim MI PK-41 dan Warga Sebatang dalam Proses Pembangunan Jamban

Sapa Sebatang Arisan Jamban MI PK-41

 Arisan Jamban yang Bukan Sembarang Arisan

Pelatihan Kader Kesehatan dan Sosialisasi Arisan Jamban di Dukuh Sebatang

Profil Desa

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2015, tingkat kemiskinan di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 23,38%. Salah satu bagian Kecamatan Kokap yang terpilih sebagai tempat pelaksanaan program Menyapa Indonesia (MI), Dukuh Sebatang, mengalami ketimpangan sosial masyarakat yang cukup besar. Salah satunya dari segi kesehatan. Lokasi ini memiliki beberapa permasalahan kesehatan seperti penyakit degeneratif dan ISPA yang menjangkit sebagian masyarakat, fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang kurang memadai, kesulitan akses air bersih, sarana pelayanan kesehatan yang minim, dan banyak rumah warga yang belum masuk kriteria rumah sehat.

Deskripsi Kegiatan

Infografis Arisan Jamban

 

Jamban merupakan salah satu sarana sanitasi dasar yang harus dimiliki setiap warga masyarakat. Penggunaan jamban yang tepat dapat membentuk lingkungan yang bersih dan sehat. Disamping itu, pencemaran sumber air disekitar jamban dan keberadaan lalat atau serangga lain yang dapat membawa penyakit menular (diare, kolera, disentri, dan tipus) dapat dihindari.

Sebelum program MI berjalan, terdapat 56 rumah warga Dukuh Sebatang yang belum memenuhi persyaratan rumah sehat. Oleh karena itu, untuk menjamin ketersediaan jamban sehat dan ekonomis bagi warga Dukuh Sebatang, Tim MI PK-41 melakukan aksi pemberdayaan masyarakat (community development) melalui Program Arisan Jamban.

Mengapa disebut Arisan Jamban? 

Program ini  dirancang layaknya arisan pada umumnya. Warga diwajibkan membayar iuran senilai Rp 1.000, 00 per hari untuk membangun jamban. Pada tahap selanjutnya dilakukan pengocokan nama warga setiap sebulan sekali. Warga yang memperoleh arisan akan mendapat giliran untuk pembangunan jamban terlebih dahulu. Adapun proses pembangunan jamban dibagi menjadi 5 kloter dalam kurun waktu 5 bulan.

Sistem arisan dirancang untuk meringankan beban para warga melalui subsidi pembangunan jamban. Hal ini juga bertujuan untuk membentuk kemandirian warga setempat. Tim MI PK-41 berharap melalui urunan pribadi, warga Dukuh Sebatang tidak hanya sekedar menikmati pembangunan tetapi juga timbul rasa kepemilikan dan tanggung jawab  untuk menjaga kebersihan dan kesehatan jambannya

Dana yang terkumpul dari urunan warga dan donatur akan disalurkan untuk pemeliharaan jangka panjang program kesehatan lainnya. Proses pengawasan dan evaluasi akan dilaksanakan oleh Tim MI PK-41 selama 2 tahun guna menjaga lingkungan hidup sehat yang berkelanjutan di Dukuh Sebatang. Pembangunan jamban telah melibatkan warga Dukuh Sebatang secara langsung dan kami juga ikut mengajak warga untuk dapat memeliharanya. Program Arisan Jamban diharapkan bermuara pada satu tujuan, yaitu peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Dukuh Sebatang yang berkelanjutan.

Gotong Royong Membangun Jamban
Gotong Royong Membangun Jamban

Tim MI PK-41 juga memiliki 3 program kesehatan lain yang dijalankan di Dukuh Sebatang antara lain :

1. Program Kader Penyuluh Kesehatan

Aktivitas  program ini meliputi penyuluhan ODF (STOP BABS) dan pelatihan “Menuju Posyandu Mandiri”.

Pelatihan Kesehatan

Penyuluhan Stop BAB Sembarangan

 

pelatihan kader penyuluh

Pelatihan Kader Kesehatan

 

2. Program Dokter Kecil (Dokcil)

Kegiatan ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah Menguri. Pelatihan diberikan oleh Tim Dokter PK-41. Diharapkan pembentukan dan pelatihan  dokcil dapat menumbuhkan kesadaran hidup sehat semenjak usia dini. Pada bulan April 2016 yang lalu, Tim Dokter Kecil SD Muhammadiyah Menguri mendapat amanah untuk mewakili Kabupaten Kulon Progo dalam Lomba Dokter Kecil tingkat Provinsi D I Yogyakarta (DIY). Dengan kerja keras dan semangat yang besar, mereka berhasil meraih juara ketiga. Wah, selamat ya. Tahun depan pasti bisa lebih baik. Semangat!! :)

IMG_2409

Tanya Jawab Dokter Kecil SD Muhammadiyah Menguri dan Tim Dokter PK-41

 

Salah satu sesi pelatihan

Salah Satu Sesi Praktik Kesehatan Gigi dan Mulut

 

Tim Dokcil SD Muhammadiyah Menguri dalam Lomba Dokter Kecil Tingkat Provinsi DIY

Tim Dokcil SD Muhammadiyah Menguri dalam Lomba Dokter Kecil Tingkat Provinsi DIY

3. Pengkajian Air Bersih

Pengkajian Air Bersih  bertujuan mendukung program pemberdayaan infrastruktur dan sebagai indikator kesehatan di Dukuh Sebatang.

Pengambilan Sampel Air

Pengambilan Sampel Air
 

Struktur Organisasi

struktur organisasi MI 41

Cara Membantu Kami

Donasi:

BCA No. 1663 201 780 (a.n. Ryska Sribina)

Volunteer:

Untuk melanjutkan program ini Tim MI PK-41 telah melakukan rekrutmen volunteer pada bulan Februari 2016. Mereka disebut Tim Aksi Peduli Sehat. Teman-teman volunteer akan membantu  pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) program Kader Kesehatan, Dokter Kecil dan Arisan Jamban. Ada 6 volunteer yang terpilih dari berbagai latar belakang keahlian seperti keperawatan, kedokteran, gizi kesehatan, dan fisipol. Semua volunteer diharapkan dapat bekerja sama agar memperlancar proses monev selama dua tahun kedepan. Keep fighting! :)

Suasana Tahap Interview Tim Aksi Peduli Sehat

Suasana Tahap Interview Tim Aksi Peduli Sehat

 

Tim Aksi Peduli Sehat MI PK-41

Volunteer yang Terpilih sebagai Tim Aksi Peduli Sehat MI PK-41

Hubungi Kami

Handphone:

Syafira Amadea   +61405321443 (Whatsapp available)

Syamsul  Qamar +62 852-5550-8021

Email Angkatan

menyapa41@gmail.com

Profil 

https://kitabisa.com/arisanjamban

(Kontributor: Syafira Amadea/ Editor: Prima Interpares)

 

Jual Gula Semut Nilas, Ampyang, dan Kacang Disco

Unknown-12

GULA SEMUT

kemasan 200gr :
eceran : @11.000
>10pcs :@9.000
>30pcs :@8.500
Harga plastik biasa
eceran : @10.000
>10 pcs :@ 8.000
>30 pcs :@ 7.500

Harga curah
eceran/kg : @40.000
>10kg :@35.000

 

GULA SEMUT JAHE
untuk kemasan 200gr yg berdiri :
eceran : @12.000
>10pcs :@10.000
>30pcs :@9.500

harga plastik biasa
eceran : @11.000
>10 pcs :@ 9.500
>30pcs : @9.000

Harga curah
eceran/kg : @45.000
>10kg :@40.000

Unknown-11

AMPYANG
eceran :@14.000
>10pcs : @12.000

KACANG DISCO
eceran :@ 15.000
>10pcs :@ 13.000

Pengiriman dri Jogja ya bisa hub Ayu :
+62 818-0239-3793

Sapa Sebatang

Tentang “Sapa Sebatang”

Menyapa Indonesia merupakan program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan desa terpencil yang dilakukan oleh para calon penerima (awardee) Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Saat ini program MI yang dimotori oleh awardee angkatan PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP 41, PK-42, PK-43, dan PK-44 dilaksanakan di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai salah satu dukuh yang tercatat memiliki 200 KK (Kepala Keluarga), Dukuh Sebatang dipilih sebagai lokasi penerapan program MI (Menyapa Indonesia) karena dianggap paling membutuhkan bantuan pengembangan masyarakat dibandingkan dukuh lain yang ada di sekitarnya.

Hasil survey lapangan tim MI gabungan memperlihatkan bahwa 166 dari 200 KK masih termasuk ke dalam kategori KK prasejahtera. Dalam Upaya membantu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Dukuh Sebatang, tim MI Gabungan PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 mencanangkan program pemberdayaan serta pengembangan Dukuh Sebatang yang berorientasi pada 4 bidang utama, yakni bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan budaya, serta infrastruktur.

Setiap angkatan PK bertanggungjawab pada satu bidang tertentu. PK-41 mengusung program kerja untuk bidang kesehatan, PK-42 melakukan pemberdayaan dalam bidang ekonomi, PK-43 berperan dalam bidang pendidikan dan budaya, serta PK-44 melakukan pengembangan dalam bidang infrastruktur.

Bidang Kesehatan

Dari segi kesehatan, Dukuh Sebatang memiliki beberapa permasalahan, di antaranya adalah terdapat beberapa masyarakat yang terjangkit penyakit degeneratif dan ISPA, minim dan kurang memadainya fasilitas mandi cuci kakus (MCK), sulitnya akses air bersih, kurangnya sarana pelayanan kesehatan, dan terdapat banyak rumah warga yang belum masuk kriteria rumah sehat.

Menurut Syamsul Qamar dan Syafira Amadea, Project Leader MI PK-41 Catureka Mandala, Dukuh Sebatang berada di daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang belum memadai sehingga warga sulit dalam mengakses fasilitas kesehatan.

Warga yang sakit dan ingin berobat, harus menunggu adanya puskesmas keliling yang hanya datang sebulan sekali ke Dukuh Sebatang. Di samping itu, mayoritas masyarakat setempat memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah sehingga perhatian dan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan penyakit masih kurang.

Untuk mengakomodasi kondisi-kondisi tersebut, Catureka Mandala akan mengembangkan tiga program kesehatan, yaitu pembentukan kader penyuluh kesehatan, arisan jamban, dan kajian air bersih.

Bidang Ekonomi

Mayoritas penduduk di Dukuh Sebatang berprofesi sebagai petani gula kelapa. Pada beberapa lokasi terdapat peternakan kambing dan kelinci, walau belum berkembang dengan baik.

Meski telah memiliki mata pencaharian utama, masyarakat Dukuh Sebatang masih tidak luput dari kondisi kesenjangan ekonomi. Kurangnya minat masyarakat untuk mengolah gula kelapa sebagai salah satu komoditas utama, kurangnya kemampuan masyarakat untuk beternak, kurangnya kemampuan masyarakat dalam memasarkan hasil tani, banyaknya tengkulak sehingga hasil jual rendah, merupakan beberapa faktor yang melatarbelakangi kesenjangan ekonomi tersebut.

Bondan Widyatmoko selaku Project Leader MI PK-42 Ancala Diwangkara menjelaskan bahwa terdapat dua program utama dalam pengembangan ekonomi Dukuh Sebatang yakni Branding Dukuh Sebatang sebagai Sentra Industri Olahan Nira dan Pelatihan Good Farming Practice (GFP) untuk Budidaya Kelinci.

Program industri olahan nira akan dimulai dengan mengadakan pelatihan diversifikasi produk olahan nira menjadi olahan lain seperti jahe gula aren dan ampyang aneka rasa sebagai upaya peningkatan nilai jual produk hingga ke tahap sertifikasi produk.

Sedangkan program budidaya kelinci akan dimulai dengan mengadakan pelatihan cara beternak yang baik. Kedua program ini mampu disinergikan melalui pemanfaatan limbah kotoran kelinci sebagai pupuk organik untuk perkebunan kelapa.

Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Project Leader MI PK-43 Jivakalpa, Isma Dwi Kurniawan mengatakan bahwa di Dukuh Sebatang tidak ada sekolah dasar. Jarak antara rumah dengan sekolah dasar menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan di Dukuh Sebatang. Sementara itu, dalam bidang kebudayaan dan kesenian, Dukuh Sebatang memiliki potensi karya-karya seni dalam bentuk Jathilan dan Karawitan yang butuh untuk terus dipelihara, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dalam upaya memfasilitasi pengembangan pendidikan dan kebudayaan, PK-43 Jikavalpa berorientasi pada program peningkatan kesadaran pentingnya pendidikan, pengadaan sarana prasarana, dan peningkatan kualitas SDM pendidik.

Melalui program kakak asuh, diharapkan motivasi belajar para pelajar di Dukuh Sebatang dapat meningkat. Selain itu, PK-43 Jivakalpa juga akan melakukan perbaikan infrastruktur PAUD, mengadakan training of trainers (ToT) bagi tenaga pendidik, dan menambah buku bacaan di Rumah Pintar yang sudah tersedia di Dukuh Sebatang. Selanjutnya, untuk mendukung perkembangan kebudayaan, PK-43 Jivakalpa akan melaksanakan beberapa kegiatan seperti manajemen organisasi seni dan kaderisasi dengan tujuan menjadikan Dukuh Sebatang sebagai kampung kesenian.

Bidang Infrastruktur

Perbedaan elevasi pada profil tanah yang besar serta jarak Dukuh Sebatang yang jauh dari pusat kota Kulonprogo menyebabkan terhambatnya perkembangan infrastruktur transportasi, air, dan listrik. Jalan desa yang dibangun dari bahan dasar semen (konblok) pada musim hujan menjadi sangat licin karena lumut dan pasir.

Project Leader PK-44, Cholila Tamzyi mengatakan bahwa kondisi jalan kabupaten yang cukup parah dan naik turun juga menyebabkan sulitnya akses kendaraan roda 4 pembawa material bangunan ataupun ambulan emergency jika ada warga yang sakit. Di samping itu, akses air Dukuh Sebatang wilayah atas dan dengan sangat terbatas.

Dalam upaya pembenahan kondisi tersebut, PK-44 Sthana Citraloka akan melakukan berbagai program, antara lain program infrastruktur air, program infrastruktur jalan, dan program infrastruktur listrik.

Adapun upaya untuk mewujudkan penyediaan air bagi warga masyarakat Dukuh Sebatang dilakukan melalui berbagai program meliputi: advokasi peroyek pengembangan jalur PDAM, konservasi mata air, dan pengujian kualitas air. Sementara pada program infrastruktur jalan akan dilakukan bantuan advokasi proposal pembangunan jalan. Selanjutnya pada program infrastruktur listrik akan diupaakan penggunaan solar cell.

Keseluruhan program MI oleh PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, akan dikemas dalam satu proyek yang dinamakan ”Sapa Sebatang”, dan akan dimulai pada bulan Agustus 2015.

Program Sapa Sebatang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat Dukuh Sebatang yang berperilaku sehat dan berdikari menciptakan lingkungan sehat, mandiri dan kreatif dalam bidang ekonomi, serta maju dalam bidang pendidikan, seni dan budaya. Selain itu, melalui pembangunan infrastruktur yang memadai, diharapkan dapat mendorong masyarakat Dukuh Sebatang untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di wilayah mereka.

dukuh sebatang copy

“Menyapa Indonesia” Menyapa Dukuh Sebatang

Aksi Menyapa Indonesia (MI) yang digelar para calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, akan menjangkau berbagai daerah tertinggal di Indonesia. Salah satu daerah yang kini menjadi sasaran aksi Menyapa Indonesia adala Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogra, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di tempat ini, pelaksanaan aksi Menyapa Indonesia melibatkan empat kelompok, yakni kelompok Persiapan Keberangkatan (PK) ke-41, hingga PK-44. Di Dukuh Sebatang, Masing-masing kelompok ini memiliki bidang yang berbeda-beda dalam menjalankan aksi mereka.

PK-41 (Catureka Mandala)

Catureka MandalaCatureka Mandala merupakan kumpulan putra putri terbaik bangsa yang mendapat kepercayaan menjadi calon penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Kelompok ini tergabung dalam kelompok Persiapan Keberangkatan Angkatan 41 (PK-41) yang diketuai oleh Oktiani Putri.

Catureka Mandala yang bermakna Kesatuan 41, tidak hanya menjadi representasi identitas kolektif. Lebih lebih dari itu. Nama ini merupakan manifestasi cita dari seluruh anggota PK-41 untuk bersatu, bersama dalam semangat cinta dan harmoni, menjadi insan unggul yang mampu membangun negeri menuju Indonesia Emas 2045.

PK-41 beranggotakan 130 calon awardee yang terdiri dari 107 calon magister, 17 orang calon doktor, serta enam orang calon doktor spesialis. Mereka semua akan melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sebanyak 130 orang ini terbagi dalam enam kelompok yang dinamai pulau-pulau terluar Indonesia, yaitu: Pulau Sibarubaru, Pulau Maratua, Pulau Nusa Barung, Pulau Wetar, Pulau Kakarutan, dan Pulau Fanildo. Penamaan kelompok tersebut sekaligus menjadi pesan dan ajakan dari dari PK-41 kepada seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga dan memelihara keutuhan wilayan NKRI.

Sebagai bentuk pengabdian kepada negeri, Catureka Mandala (PK-41) beserta PK-42, PK-43, dan PK-44 sedang melakukan aksi pemberdayaan masyarakat (community development) bertajuk ‘Menyapa Indonesia’ di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bidang kesehatan menjadi fokus pemberdayaan Catureka Mandala di desa tersebut. Tiga program prioritas yang akan dilakukan adalah: Kader Penyuluhan Kesehatan, Arisan Jamban, dan Akses Layanan Air Bersih.

Semua program tersebut bermuara pada satu tujuan yaitu peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Dukuh Sebatang yang berkelanjutan.

PK-42 (Ancala Diwangkara)

PK-42Ancala Diwangkara diketuai oleh Mouliza Kristhopher Donna S. Secara harfiah Ancala berarti gunung danDiwangkara berarti menerangi/penerang. Gunung dapat pula disebut sebagai pasak bumi yang menjaga keseimbangan, tempat tumbuh dan berkembangnya beragam spesies dan masyarakat. Sedangkan setiap gunung, pasti memiliki puncak sebagaimana seorang pemimpin yang memiliki visi untuk kehidupan yang lebih baik.

PK-42 adalah sekumpulan pemimpin yang dapat turut serta menyeimbangkan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi bangsa, dan menjadi penggagas asa bangsa. Dengan karakteristik tersebut, anggota PK-42 diharapkan dapat menjadi penerang bagi masa depan bangsa Indonesia.

Ancala Diwangkara beranggotakan 123 orang yang terbagi dalam 6 kelompok. Setiap kelompok memiliki nama puncak gunung yang ada di Indonesia; Mahameru, Cartenzs, Indrapura, Rantemario, Rinjani, dan Bukit Raya.

Ancala Diwangkara turut serta memotori program ‘Menyapa Indonesia’ di Dukuh Sebatang, dan akan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam hal pengelolaan potensi ekonomi, yaitu melalui program branding nira dan budidaya kelinci. Harapan ke depan, program Menyapa Indonesia ini mampu membentuk generasi penerus yang mandiri dalam bidang wirausaha.

PK-43 (Jivakalpa)

PK 43 JivakalpaJivakalpa yang berasal dari bahasa sansekerta, yakni Jiva (jiwa) yang berarti benih kehidupan dan Kalpataru yang merupakan pohon pengharapan dan mencerminkan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan seimbang, yang diidamkan karena melambangkan hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup. Karena itu, nama Jivakalpa sendiri merepresentasikan visi PK-43 untuk mewujudkan harapan masyarakat akan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras, dan diidamkan.

“Jivakalpa” yang diketuai Ihsan Ahmad Zulkarnain, terdiri dari 122 calon-calon magister dan doktoral yang berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Kelompok ini terbagi lagi menjadi enam kelompok yang masing-masing dinamai dengan nama-nama bertema diversifikasi pangan, yaitu : Papeda, Gadong, Songkolo, Bagadang, Dadiah, Thiwul, dan Eloi.

Tema diversifikasi pangan ini digunakan dengan maksud memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal 16 Oktober yang juga bertepatan dengan waktu pelaksanaannya PK -43 LPDP di wisma Hijau Depok.

Penyelenggaraan HPS di Indonesia menjadi momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan para stakeholder terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Program spesifik yang dibidangi oleh PK-43 dalam pelaksanaan Menyapa Indonesia di Dukuh Sebatang ialah pendidikan dan kebudayaan. Dalam bidang pendidikan, PK-43 berfokus pada pelatihan tenaga pendidik, kakak adik asuh, perbaikan kualitas PAUD, dan perbaikan kualitas Rumah Pintar. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, PK-43 berfokus pada Sebatang Heritage Festival, video framing, showcase, interaksi, kaderisasi, dan manajemen organisasi seni.

PK-44 (Sthana Citraloka)

logo pk44Sthana Citraloka merupakan nama Persiapan Keberangkatan angkatan 44 (PK-44) yang diketuai oleh Devian Stevano.

Sthana Citraloka berarti tempat yang memiliki catatan sejarah dunia. Nama ini mengingatkan kita kepada tempat-tempat wisata sejarah yang memiliki nilai budaya, kepribadian dan karakter bangsa Indonesia serta menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan pendahulu.

Sthana Citraloka memuat harapan para peserta PK-44 agar lebih mengetahui dan melestarikan tempat-tempat bersejarah di Indonesia, sehingga dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Jumlah peserta PK-44 adalah 120 orang yang terdiri dari 97 orang calon magister, 19 orang calon doktor, dan empat orang calon doktor spesialis, yang akan menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada PK-44 terdapat 6 kelompok dengan penamaan bertemakan tempat bersejarah, yaitu: Benteng Vredeburg, Taman Sari, Lawang Sewu, Fort Rotterdam, Jam Gadang, dan Gedung Sate.

Para peserta PK-44 akan berkontribusi pula pada program ‘Menyapa Indonesia’ yang merupakan program pengembangan masyarakat yang dikelola oleh para calon penerima anugerah BPI-LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Bidang Infrastruktur menjadi fokus kontribusi yang dilakukan PK-44 khususnya dalam pengembangan infrastruktur air, jalan, dan listrik.