Sapa-Sebatang

Menyapa Indonesia merupakan program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan desa terpencil yang dilakukan oleh para calon penerima (awardee) Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Saat ini program MI yang dimotori oleh awardee angkatan PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP 41, PK-42, PK-43, dan PK-44 dilaksanakan di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai salah satu dukuh yang tercatat memiliki 200 KK (Kepala Keluarga), Dukuh Sebatang dipilih sebagai lokasi penerapan program MI (Menyapa Indonesia) karena dianggap paling membutuhkan bantuan pengembangan masyarakat dibandingkan dukuh lain yang ada di sekitarnya.

Hasil survey lapangan tim MI gabungan memperlihatkan bahwa 166 dari 200 KK masih termasuk ke dalam kategori KK prasejahtera. Dalam Upaya membantu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Dukuh Sebatang, tim MI Gabungan PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 mencanangkan program pemberdayaan serta pengembangan Dukuh Sebatang yang berorientasi pada 4 bidang utama, yakni bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan budaya, serta infrastruktur.

Setiap angkatan PK bertanggungjawab pada satu bidang tertentu. PK-41 mengusung program kerja untuk bidang kesehatan, PK-42 melakukan pemberdayaan dalam bidang ekonomi, PK-43 berperan dalam bidang pendidikan dan budaya, serta PK-44 melakukan pengembangan dalam bidang infrastruktur.

Bidang Kesehatan

Dari segi kesehatan, Dukuh Sebatang memiliki beberapa permasalahan, di antaranya adalah terdapat beberapa masyarakat yang terjangkit penyakit degeneratif dan ISPA, minim dan kurang memadainya fasilitas mandi cuci kakus (MCK), sulitnya akses air bersih, kurangnya sarana pelayanan kesehatan, dan terdapat banyak rumah warga yang belum masuk kriteria rumah sehat.

Menurut Syamsul Qamar dan Syafira Amadea, Project Leader MI PK-41 Catureka Mandala, Dukuh Sebatang berada di daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang belum memadai sehingga warga sulit dalam mengakses fasilitas kesehatan.

Warga yang sakit dan ingin berobat, harus menunggu adanya puskesmas keliling yang hanya datang sebulan sekali ke Dukuh Sebatang. Di samping itu, mayoritas masyarakat setempat memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah sehingga perhatian dan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan penyakit masih kurang.

Untuk mengakomodasi kondisi-kondisi tersebut, Catureka Mandala akan mengembangkan tiga program kesehatan, yaitu pembentukan kader penyuluh kesehatan, arisan jamban, dan kajian air bersih.

Bidang Ekonomi

Mayoritas penduduk di Dukuh Sebatang berprofesi sebagai petani gula kelapa. Pada beberapa lokasi terdapat peternakan kambing dan kelinci, walau belum berkembang dengan baik.

Meski telah memiliki mata pencaharian utama, masyarakat Dukuh Sebatang masih tidak luput dari kondisi kesenjangan ekonomi. Kurangnya minat masyarakat untuk mengolah gula kelapa sebagai salah satu komoditas utama, kurangnya kemampuan masyarakat untuk beternak, kurangnya kemampuan masyarakat dalam memasarkan hasil tani, banyaknya tengkulak sehingga hasil jual rendah, merupakan beberapa faktor yang melatarbelakangi kesenjangan ekonomi tersebut.

Bondan Widyatmoko selaku Project Leader MI PK-42 Ancala Diwangkara menjelaskan bahwa terdapat dua program utama dalam pengembangan ekonomi Dukuh Sebatang yakni Branding Dukuh Sebatang sebagai Sentra Industri Olahan Nira dan Pelatihan Good Farming Practice (GFP) untuk Budidaya Kelinci.

Program industri olahan nira akan dimulai dengan mengadakan pelatihan diversifikasi produk olahan nira menjadi olahan lain seperti jahe gula aren dan ampyang aneka rasa sebagai upaya peningkatan nilai jual produk hingga ke tahap sertifikasi produk.

Sedangkan program budidaya kelinci akan dimulai dengan mengadakan pelatihan cara beternak yang baik. Kedua program ini mampu disinergikan melalui pemanfaatan limbah kotoran kelinci sebagai pupuk organik untuk perkebunan kelapa.

Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Project Leader MI PK-43 Jivakalpa, Isma Dwi Kurniawan mengatakan bahwa di Dukuh Sebatang tidak ada sekolah dasar. Jarak antara rumah dengan sekolah dasar menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan di Dukuh Sebatang. Sementara itu, dalam bidang kebudayaan dan kesenian, Dukuh Sebatang memiliki potensi karya-karya seni dalam bentuk Jathilan dan Karawitan yang butuh untuk terus dipelihara, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dalam upaya memfasilitasi pengembangan pendidikan dan kebudayaan, PK-43 Jikavalpa berorientasi pada program peningkatan kesadaran pentingnya pendidikan, pengadaan sarana prasarana, dan peningkatan kualitas SDM pendidik.

Melalui program kakak asuh, diharapkan motivasi belajar para pelajar di Dukuh Sebatang dapat meningkat. Selain itu, PK-43 Jivakalpa juga akan melakukan perbaikan infrastruktur PAUD, mengadakan training of trainers (ToT) bagi tenaga pendidik, dan menambah buku bacaan di Rumah Pintar yang sudah tersedia di Dukuh Sebatang. Selanjutnya, untuk mendukung perkembangan kebudayaan, PK-43 Jivakalpa akan melaksanakan beberapa kegiatan seperti manajemen organisasi seni dan kaderisasi dengan tujuan menjadikan Dukuh Sebatang sebagai kampung kesenian.

Bidang Infrastruktur

Perbedaan elevasi pada profil tanah yang besar serta jarak Dukuh Sebatang yang jauh dari pusat kota Kulonprogo menyebabkan terhambatnya perkembangan infrastruktur transportasi, air, dan listrik. Jalan desa yang dibangun dari bahan dasar semen (konblok) pada musim hujan menjadi sangat licin karena lumut dan pasir.

Project Leader PK-44, Cholila Tamzyi mengatakan bahwa kondisi jalan kabupaten yang cukup parah dan naik turun juga menyebabkan sulitnya akses kendaraan roda 4 pembawa material bangunan ataupun ambulan emergency jika ada warga yang sakit. Di samping itu, akses air Dukuh Sebatang wilayah atas dan dengan sangat terbatas.

Dalam upaya pembenahan kondisi tersebut, PK-44 Sthana Citraloka akan melakukan berbagai program, antara lain program infrastruktur air, program infrastruktur jalan, dan program infrastruktur listrik.

Adapun upaya untuk mewujudkan penyediaan air bagi warga masyarakat Dukuh Sebatang dilakukan melalui berbagai program meliputi: advokasi peroyek pengembangan jalur PDAM, konservasi mata air, dan pengujian kualitas air. Sementara pada program infrastruktur jalan akan dilakukan bantuan advokasi proposal pembangunan jalan. Selanjutnya pada program infrastruktur listrik akan diupaakan penggunaan solar cell.

Keseluruhan program MI oleh PK-41, PK-42, PK-43, dan PK-44 di Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, akan dikemas dalam satu proyek yang dinamakan ”Sapa Sebatang”, dan akan dimulai pada bulan Agustus 2015.

Program Sapa Sebatang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat Dukuh Sebatang yang berperilaku sehat dan berdikari menciptakan lingkungan sehat, mandiri dan kreatif dalam bidang ekonomi, serta maju dalam bidang pendidikan, seni dan budaya. Selain itu, melalui pembangunan infrastruktur yang memadai, diharapkan dapat mendorong masyarakat Dukuh Sebatang untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di wilayah mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>