Sapa Sebatang MI PK-42

misebatang

Profil Desa

Program  MI PK-42 bertempat di Desa Hargotirto, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini menempati area seluas 1.471 hektare yang terdiri atas 14 dukuh yang dihuni kurang lebih sebanyak 2.355 KK. Rilis resmi dari Bappeda setempat menunjukkan bahwa di tahun 2014, angka kemiskinan di tingkat kabupaten mencapai 16.74% dan untuk Kecamatan Kokap sendiri dimana Desa Hargotirto berada, angka kemiskinan mencapai 23.38%, jauh di atas rata rata nasional yang berada pada level 13%. Secara khusus, program MI PK-42 bertempat di Dukuh Sebatang dengan jumlah penduduk 202 KK.

Masyarakat Hargotirto hingga saat ini masih mengalami kesenjangan ekonomi yang diakibatkan buruknya kehidupan masyarakat Hargotirto. Kesenjangan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: (1) kurangnya skill masyarakat dalam memasarkan hasil tani, (2) banyaknya tengkulak sehingga hasil jual rendah, (3) kurangnya kemampuan masyarakat untuk beternak, (4) kurangnya minat masyarakat untuk menjadi petani gula kelapa meskipun ini merupakan salah-satu komoditas utama di desa ini, dan masih banyak permasalahan yang lainnya.

Dekripsi Kegiatan

Salah satu hasil alam yang menjadi unggulan dari Dukuh Sebatang adalah nira. Nira yang diperoleh oleh para petani nira ini kemudian diolah menjadi gula batok (gula merah) serta gula semut. Dengan kondisi geografis daerah yang luas, pemanfaatan nira sebagai komoditas unggulan Dukuh Sebatang dapat menjadi jalan keluar yang mampu mengurangi angka keluarga prasejahtera di Dukuh Sebatang, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, DIY.

Berdasarkan hasil survey MI PK-42 yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2015, diperoleh data bahwa luasan kepemilikan lahan untuk kelapa yang dimiliki oleh rumah tangga kelompok tani nira seluas 0.5 Ha. Setiap satu kelompok tani terdiri dari kurang lebih 18 rumah tangga. Dengan asumsi kepemilikan lahan peruntukkan kelapa per-rumah tangga sama, maka satu kelompok tadi dapat mengalokasikan kurang lebih 9 Ha lahan untuk kelapa.

Branding Dukuh Sebagai Sentra Industri Olahan Nira

Secara umum, tiap keluarga memiliki 10-20 pohon kelapa yang dapat dideres niranya. Dari pohon-pohon tersebut, tiap pohon kelapa rata-rata berisi 2 bumbung yang dipanen pagi dan sore, sehingga dalam satu hari, satu pohon kurang lebih dapat dipanen sebanyak 4 bumbung. Potensi sumber daya alam inilah yang melatarbelakangi usulan program Branding Dukuh Sebagai Sentra Industri Olahan Nira. Bentuk program branding ini diawali dengan mengadakan pelatihan pembuatan diversifikasi produk olahan nira, seperti ampyang, kacang disco, gula semut aneka rasa, dan minuman legen. Selain itu juga dilakukan pelatihan cara pengemasan yang baik dan menarik sehingga meningkatkan nilai jual. Lalu dilakukan pula pendampingan untuk mendapatkan izin P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga).

Gula semut kemasan biasa
Gula semut kemasan biasa

Hasil produksi olahan nira kemudian dipersonalisasi dengan ikon NILAS. NILAS secara harafiah merupakan sebuah kepanjangan dari frase kata Nira Olahan dari Sebatang. Kata ini diambil dari bahasa Jawa yang berarti tapak atau jejak. Beranjak dari sebuah pameo bahwa nama adalah sebuah doa, diharapkan NILAS bisa menjadi sebuah tonggak kemandirian secara ekonomi yang bisa diwariskan ke generasi-generasi yang akan datang.

Pelatihan Good Farming Practice (GFP) untuk Budidaya Kelinci

Selain memiliki nira sebagai komoditas daeerah, Dukuh Sebatang juga memiliki potensi ternak kelinci yang cukup menjanjikan. Hal ini didorong dari tingginya permintaan kelinci baik dari dalam maupun dari luar Dukuh Sebatang.  Berbeda dengan ternak kambing PE yang sudah baik dan mapan, ternak kelinci masih perlu beberapa perbaikan. Salah satunya adalah mengenai kemampuan Dukuh Sebatang memenuhi permintaan pasar. Penyuluhan serta pendampingan usaha ternak kelinci di Dukuh Sebatang masih sangat minim. Bahkan pelatihan bagaimana cara beternak yang baik belum pernah dilakukan di dukuh ini. Potensi dari kotoran kelinci yang dapat dimanfatkan sebagai pupuk pun belum dilaksanakan secara optimal.

Pelatihan Good Rabbit Farming Practice dengan pemateri Bapak Suharyanto di Seyegan, Sleman
Pelatihan Good Rabbit Farming Practice dengan pemateri Bapak Suharyanto di Seyegan, Sleman
Foto bersama MI-42, warga Dukuh Sebatang dan pemilik restoran sate kelinci Pak Djimsan (1)
Foto bersama MI-42, warga Dukuh Sebatang dan pemilik restoran sate kelinci Pak Djimsan (1)
Kelinci dari MI-42 untuk Kelompok Kelinci Lestari
Kelinci dari MI-42 untuk Kelompok Kelinci Lestari

Program ini dilaksanakan dengan cara mengadakan pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat Dukuh Sebatang, khususnya para peternak kelinci dengan melibatkan tenaga ahli untuk kemudian dari proses transfer ilmu ini dapat diperoleh kader lokal yang nantinya dapat meneruskan estafet pelatihan ini. Sistem perekrutan peserta pelatihan ini dilaksanakan secara terbuka sehingga tidak menutup kemungkinan bagi warga lain yang belum berternak kelinci untuk mengikuti pelatihan ini. Metode pelatihan ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan, yaitu secara teori, temu peternak kelinci sukses, praktik kandang. Rencana ke depan setelah ada hasil produksi dari budidaya kelinci adalah pembuatan pupuk cair dari kotoran kelinci yang akan dilabeli dengan merk “PILAS” untuk menambah penghasilan dari kegiatan budidaya kelinci.

 

Struktur Organisasi

strukturpk42

Cara Membantu Kami

Donasi:

BRI 0502 01 006755500 a.n MI PK42 Sebatang Lestari

Partnership:

Pasar/distributor kontinus untuk olahan nira ‘NILAS’ dan juga pupuk dari urine kelinci ‘PILAS’

Hubungi Kami

Handphone:

Bondan +818049825504 (Whatsapp available)

Endah  +6289634548525

Email Angkatan

menyapa42@gmail.com

(Kontributor: Renita Wijayanti/ Editor: Ahmad Faiz Nasshor)

Berita Terbaru