Petani Ramea

Desa Ramea adalah sebuah desa terpencil di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang menjadi  salah satu lokasi sasaran program Menyapa Indonesia. Motor penggerak program ini di desa Ramea adalah para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kelompok PK-38. Kelompok ini menamai dirinya, Banu Bangsa. 

Kondisi perekenomian warga desa Ramea ada di bawah rata-rata. Untuk kebutuhan pangan sehari­-hari, mereka  memanfaatkan hasil tanam sendiri seperti jagung dan tomat. Bustomi, sekretaris desa Ramea, mengatakan bahwa di desanya, warga terbilang kurang produktif. Salah satu indikasinya, jam kerja warga yang rata­-rata hanya selama 2 hari dalam seminggu dengan sisa 5 hari lainnya menganggur.

Petani Ramea

Untuk meningkatkan  taraf perekonomian desa, beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat sudah pernah dirintis oleh pihak swasta maupun pemerintah.  Salah satunya adalah Dompet Dhuafa yang melalui Mitra Jejaring Pertanian Sehat Indonesia mengadakan program pemberdayaan pertanian. Program ini bernama “Petani Desa Berdikari”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan pemberian modal dan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para petani dalam mengolah lahan pertaniannya efektif dan efisien dengan cara yang lebih modern. Tetapi,saat ini ketiadaan  embung (cekungan penampung air) menyebabkan penurunan hasil panen padi ketika musim kemarau tiba.

Jembatan Rusak
Jembatan Kayu

Pemerintah sendiri pernah mengadakan program  Kampung binaan Program Pemberdayaan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) dengan memberi pelatihan mengolah buah melinjo yang sasarannya adalah kalangan ibu rumah tangga.

Sayangnya, dari 40 warga yang dibina, kini tersisa 4 orang yang masih meneruskan kegiatan pengolahan melinjo ini. Mereka yang bertahan ini pun hanya berproduksi apabila ada pesanan (made by order). Maka tidak bisa dikatakan bahwa pengolahan buah melinjo menjadi emping ini merupakan kegiatan ekonomi utama.

Salah satu kendala yang dialami penduduk desa adalah tidak tersedianya sistem pemasaran untuk produk olahan buah melinjo. Ini menyebabkan warga kesulitan  menjual produk tersebut secara luas.

Masalah infrastruktur juga menjadi problematika utama desa Ramea. Kondisi jalan Desa Ramea sangat rusak sehingga tidak dapat dilalui oleh mobil. Sedangkan jarak antara Mandalawangi – Desa Ramea sekitar 10 km. Selain itu, masih ada kendala 141 rumah dari 441 yang belum teraliri listrik, tidak ada bidan desa, jembatan yang hanya ditopang balok kayu dan fasilitas air bersih dan MCK yang minim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>